Dolly Dulu dan Sekarang

Dolly, Kisah di Balik Runtuhnya 'Kerajaan' Prostitusi di Surabaya

Tak banyak orang tahu tentang sosok Bambang Setyo, pria yang kini sudah menginjak usia 64 tahun.

Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/MOHAMMAD ZAINAL ARIF
Fitria Anggraeni Lestari mengerjakan batik di Kupang Gunung Jaya, Surabaya, Kamis (10/3/2022). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Tak banyak orang tahu tentang sosok Bambang Setyo, pria yang kini sudah menginjak usia 64 tahun.

Padalah ia adalah satu di antara 'raja' prostitusi di wilayah Dolly, dengan memiliki sekitar delapan wisma dan ratusan anak ratusan anak buah.

Sekarang pria yang akrab disapa Mami itu memulai harinya dengan membuka pintu pagar sebuah fitness centre di Jalan Jarak 46-48 Surabaya.

Ia bahkan melakukannya sendiri, meski terkadadang dibantu oleh seorang perempuan yang bekerja untuknya dalam mengelola bisnis gym itu.

Rumah tinggal yang cukup besar itu disulap Bambang menjadi arena fitness guna menyambung hidup seusai hantaman gelombang penutupan lokalisasi Dolly Surabaya.

Mantan muncikari itu tidak bisa melupakan tahun 2014. Saat itu dia mengelola delapan wisma di kawasan Dolly. Antara lain Wisma Santai, Permata Biru, Bona Indah dan beberapa lainnya.

“Waktu itu sepulang saya ibadah umrah. Beberapa hari kemudian saya dapat labar bahwa Dolly akan resmi ditutup dan segala bentuk aktivitas prostitusi dilarang. Saya terkejut, tidak bisa berpikir saat itu,” kata Mami Bambang kepada SURYAMALANG.COM.

Ia menghela nafas,mengingat bagaimana runtuhnya 'kerajaan' bisnis prostitusi yang konon terbesar di Asia Tenggara itu.

“Saya dulu bisa punya wisma, satu kemudian berkembang, dua tiga dan seterusnya ya dari bisnis itu (prostitusi),” katanya.

Bisnis itu digeluti pertama kali oleh Bambang pada tahun 90an. Namun, awal karirnya sebagai muncikari dimulai jauh sebelum itu. Yakni menjadi anak buah Mami Dolly, yang kemudian menjadi julukan kawasan eks lokalisasi tersebut dan melegenda sepanjang massa.

“Tahun 70an, saya jadi anak buah mami Dolly langsung. Dia itu keturunan Belanda-Filipina. Awalnya masih dua atau lima wisma saja. Jalannya dulu sempit, belum ada aspal, jalan berbatu dan tanah cokelat itu,” ingat Bambang.

Perputaran uang yang cepat dan besar, membuat Bambang sempat menjadi salah satu “pengusaha” kaya. Bahkan, ia sempat membeli Toyota Alphard milik artis Sofia Latjuba di sebuan dealer mobil di Kertajaya.

Pascapenutupan Dolly pada 2014,Mami Bambang adalah salah satu orang yang kehidupannya berubah drastis. Sepulang dari ibadah umrah itu, ia seolah ditunjukkan jalan yang lebih baik untuk bertahan hidup, meski tidaklah mudah.

Ia kemudian mencoba peruntungan untuk kembali menggeluti dunia prostitusi di luar kota Surabaya. Di antaranya membuka rumah bordil di wilayah Bali, Kalimantan dan Jawa Tengah.

Halaman
1234
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved