Berita Surabaya Hari Ini

Dispendik Surabaya Siapkan 1.160 Kuota Beasiswa untuk Penghafal Kitab Suci

Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya menyiapkan beasiswa bagi pelajar penghafal kitab suci untuk 1.160 orarng.

maestrobali.com
Lambang Surabaya. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya menyiapkan beasiswa bagi pelajar penghafal kitab suci untuk 1.160 orarng.

Seleksi penerima beasiswa tersebut diberikan kepada para pelajar di Surabaya dari semua agama, baik TK, SD, sampai SMP.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi berharap program ini bisa melahirkan jiwa pemimpin. Namun, memiliki akhlakul karimah dari setiap agama.

Menurutnya, Surabaya merupakan kota toleransi bagi semua umat beragama.

"Beasiswa ini diberikan kepada pelajar dari semua agama,” kata Eri kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (10/3/2022).

Pemkot juga telah memberikan beasiswa lewat program serupa pada tahun sebelumnya.

"Semoga semakin banyak anak-anak penghafal kitab suci di Surabaya dan bisa menjalankan makna kitab suci dalam kehidupan sehari-harinya,” kata dia.

Sampai saat ini sudah ada 1.792 pelajar mendaftarkan diri untuk mengikuti Seleksi Penerimaan Beasiswa bagi Pelajar Penghafal Kitab Suci.

"Masyarakat begitu antusias," kata Yusuf Masruh, Kepala Dispendik Surabaya.

Pihaknya berharap semakin banyak siswa berkarakter di Surabaya.

"Ini merupakan misi dari Pemkot Surabaya untuk mewujudkan SDM yang unggul, berkarakter, dan religius, serta berbudaya dalam bingkai kebhinekaan,” kata Yusuf.

"Juga, sekaligus apresiasi kepada pelajar di Kota Surabaya. Program ini dapat terus dilakukan hingga membawa dampak positif bagi penerima beasiswa,” kata dia.

Pengurus Badan Musyawarah Antar Gereja (Bamag) Kota Surabaya, Yordan M. Batara-Goa menyambut baik hal ini.

“Ini adalah cermin pelaksanaan Pancasila di negara kita," kata Yordan.

"Pemerintah betul-betul berusaha agar semua agama diperhatikan, diayomi, dan juga diapresiasi,” kata Yordan.

Program ini harus menjadi percontohan bagi daerah yang lainnya.

“Meskipun tradisi menghafal kitab tidak dominan di tempat kami, tapi kami mencari alternatif lain," katanya.

"Pada akhirnya, ayat hafalan atau ayat-ayat kitab yang dihafal adalah yang solusi yang paling bisa digunakan, sesuai dengan materi pembelajaran yang diikuti dan disesuaikan dengan kurikulum sekolah,” kata dia.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved