Berita Malang Hari Ini

Dies Natalis Unisma ke-41 : Petani Milenial Dibutuhkan untuk Ketahanan Pangan Lewat Smart Farming

Dies natalis Universitas Islam Malang (Unisma) ke 41 diisi orasi ilmiah Menteri Pertanian Dr H Syahrul Yasin Limpo SH MH MSi, Minggu (27/3/2022)

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Kegiatan rapat senat terbuka dalam rangka dies natalis ke 41 Universitas Islam Malang (Unisma), Minggu (27/3/2022). 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Dies natalis Universitas Islam Malang (Unisma) ke-41 diisi orasi ilmiah Menteri Pertanian Dr H Syahrul Yasin Limpo SH MH MSi, Minggu (27/3/2022).

Orasi ini mengusung tema "Sinergitas Kementerian Pertanian dan Perguruan Tinggi Dalam Konteks Pentahelix Bersama Menciptakan Lumbung Pangan Baru dan Petani Milenial Untuk Ketahanan Pangan Nasional".

Orasi ilmiah itu dibacakan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi MAgr.

Menurutnya, perlu regerasi petani. Sebab 70 persen petani saat ini berusia di atas 40 tahun. Dan kurang dari 30 persen adalah petani milenial. Maka smart farming bisa menggenjot pertanian dan menekan ongkos produksi.

"Petani dunia makin menurun. Ini berbahaya. Regenerasi petani adalah solusi membangun pertanian," kata menteri.

Untuk itu, Kementerian Pertanian membangun petani milenial  bersama Kemendikbudristek dan swasta. Seperti membangun politeknik pertanian, SMK pertanian.

Juga dilakukan pelatihan-pelatihan terapan untik menguasai arah teknologi pertanian dan ada varietas-varietas baru yang bisa diimplementasikan.

Dengan kondisi seperti ini, maka perlu peningkatan kapasitas seluruh mahasiswa dan alumni pertanian untuk sama-sama terjun dan menunjukkan pada publik dari hulu sampai hilir untuk mendampingi petani agar bisa dapat pendapatan yang layak.

Dari Kementan juga sudah ada duta-duta petani milenial yang harus menjadi juara di daerahnya masijg-masing untuk terjun ke bisnis pertanian yang luas biasa.

Sedangkan Rektor Unisma, Prof Dr Maskuri MSi dalam pidatonya mengangkat tema mewujudkan sikap adaptif dan produktif  menuju world class university.

"Karena kita punya tanggungjawab membawa kapal besar Unisma. Ini tak hanya tanggungjawab pemimpin saja. Tapi semua berkewajiban menstabilkan Unisma," kata rektor.

Untuk itu perlu ikhtiar dan lompatan bersama dengan kecepatan tinggi dan adaptif.

Dikatakan, sikap adaptif telah telah diajarkan Islam, yaitu fokus pada masa depan.

Dengan sikap adaptif, maka lebih mudah bergerak untuk melakukan langkah-langkah ke depannya dengan melakulan perubahan.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved