Hikmah Ramadan

Merawat Ketakwaan Pasca Ramadan

RASANYA belum lama lisan kita mengucapkan “marhaban ya Ramadan”. Namun, hari ini kita sudah harus menyiapkan diri untuk ditinggalkan Ramadan.

Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Zainuddin
Ketua Umum MUI Jawa Timur, KH M Hasan Mutawakkil Alallah 

Apapun yang kita lakukan, baik sebagai pribadi, sebagai bagian dalam keluarga, sebagai bagian dari masyarakat dan negara, maka yang telah diperbuatkan dimintai pertanggungjawaban.

Sekali lagi, ini persoalan terkait dengan amal perbuatan manusia ini adalah persoalan serius.

Amal shalih ini membutuhkan keseimbangan dimensi ritual dan sosial. Secara ritual kita memang harus selalu berikhtiar mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai ibadah.

Di saat yang sama kita juga wajib peduli kepada sesama dengan melaksanakan zakat dan memperbanyak sedekah.

Ketiga, ridha (rela). Secara harfiah ridha atau rida adalah menerima dengan senang hati. Secara istilahi, ridha diartikan sebagai sikap menerima setiap pemberian Allah diiringi dengan konsistensi dalam menjalankan syariat dan menjahui larangan-Nya, baik secara lahir maupun batin.

Dengan ridha, seseorang akan menjalani kehidupan dengan selalu menjaga diri untuk bersyukur dengan tetap berbuat baik dan menghindari maksiat, selalu berprasangka baik, mencari hikmah dari setiap peristiwa yang dihadapi.

Semua dilakukan karena dengan mengendalikan hawa nafsu agar tidak terjerumus dan ridha dalam kemungkaran.

Orang-orang seperti inilah yang oleh Allah telah dijelaskan surat At-Taubah ayat 96: “Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka, tetapi jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang berbuat fasik.”

Keempat, persiapan menyambut hari akhir. Memang, dalam Islam terdapat ajaran kepada umatnya untuk mengingat masa yang telah lalu.

Itu perlu dijalankan agar manusia tidak mengulang kesalahan yang pernah dilakukan. Namun secara seimbang umat Islam juga wajib mempersiapkan masa depan yang lebih baik, terutama di akhirat kelak.

Dengan demikian, muslim yang menjalankan ajaran tersebut maka bisa dikatakan adalah muslim visioner karena telah mempersiapkan apa yang bakal dikerjakan di masa depan.

Maka, senyampang masih diberikan kesempatan dan kenikmatan umur, mari kita investasikan diri dengan menanamkan empat modal penting di atas; khauf, amal shalih, ridha dan persiapan menyambut akhir agar menjadi orang bertakwa sebagaimana disebut oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Semoga, Allah SWT menerima segala amal kebaikan kita selama bulan Ramadan, megampuni segala dosa kita dan memberikan kekuatan kita untuk merawat ketakwaan pasca-Ramadan. Allahumma aamiin.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved