Minggu, 26 April 2026

Berita Malang Hari Ini

Hasil Penelitian UPT PKM, Tingkat Toleransi Mahasiswa UB Sedang

UPT Pengembangan Karakter Mahasiawa (PKM) Universitas Brawijaya (UB) mengadakan survei pemetaan karakter toleransi mahasiswa pada April 2022.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: rahadian bagus priambodo
Pengembangan Karakter Mahasiawa (PKM) Universitas Brawijaya (UB) mengadakan survei pemetaan karakter toleransi mahasiswa pada April 2022. Survei melibatkan 397 mahasiswa dari 16 fakultas. Hasilnya ditemukan bahwa tingkat toleransi mahasiswa secara keseluruhan masih berada pada tingkatan sedang atau 85,64 persen. 

SURYAMALANG.COM|MALANG- UPT Pengembangan Karakter Mahasiawa (PKM) Universitas Brawijaya (UB) mengadakan survei pemetaan karakter toleransi mahasiswa pada April 2022. Survei melibatkan 397 mahasiswa dari 16 fakultas.

Hasilnya ditemukan bahwa tingkat toleransi mahasiswa secara keseluruhan masih berada pada tingkatan sedang atau 85,64 persen.

Artinya, secara umum, mahasiswa masih ragu untuk bersikap toleransi. Menurut Kepala UPT PKM UB Dr Mohamad Anas MPhil, kegiatan ini merupakan rangkaian upaya UPT untuk mengembangkan nilai dan karakter mahasiswa. 

"UPT kami ini mengelola empat mata kuliah umum seperti agama, pancasila, kewarganegaraan Indonesia," jelasnya pada wartawan, Senin (23/5/2022).

Dikatakan, pihaknya tidak melihat kelemahannya, namun hasilnya untuk memperkuat nilai dan karakter mahasiswa. 

Ia menuturkan, dari hasil penelitian memang ada yang tidak membahagiakan karena ada dua indikator rendah.

Tapi ini bisa jadi ceruk yang bisa dikuatkan. Hasilnya juga sudah dilaporkan ke Wakil Rektor I UB Prof Dr Aulanni'am serta diseminasikan ke media sebagai hasil kajian ilmiah.

"Memang ini kegiatan perdana pemetaan nilai dan karakter. Semester depan akan dilakukan penelitian di sisi lainnya," jelasnya.

Dikatakan, UPT PKM UB memiliki tagline karakter keren. Maka setelah ini nanti akan diteliti sisi religiusnya, entrepreneurnya, nasionalisnya. 

Hasil Temuan

Penyebaran angket dilakukan pada mahasiswa secara online dari 16 fakultas di rentang usia 17—22 tahun.

Usia 17 tahun ada diperkirakan karena dari kelas percepatan saat di sekolah menegah.

Indikator toleransi yang digunakan dalam penelitian ini memanfaatkan teori Bullard (1996).

Yaitu melihat toleransi dari tiga aspek, yaitu pikiran (pemahaman/ kognitif), sikap, dan tindakan. Penelitian ini juga menggunakan teori Scanlon (2003) yang mengindikasikan bahwa toleransi adalah penerimaan akan perbedaan. 

Penelitian ini menunjukkan bahwa 98,24 persen mahasiswa memiliki pemahaman toleransi yang tinggi, 1,26 persen memiliki pemahaman toleransi yang sedang. Dan hanya 0,50 persen yang memiliki pemahaman toleransi yang rendah. 

Dalam hal sikap penerimaan terhadap perbedaan (inklusif) sebanyak 94,21 persen mahasiswa memiliki sikap penerimaan yang tinggi. Ada 5,54 persen yang memiliki sikap penerimaan dengan kategori sedang. Serta hanya 0,25 persen yang memiliki sikap penerimaan rendah. 

Dalam hal pengakuan terhadap keberadaan kelompok minoritas, 50,13 persen responden memiliki sikap dengan kategori sedang. Sedang 44,58 persen memiliki sikap mengakui keberadaan kelompok minoritas dalam kategori tinggi, dan sisanya sebanyak 5,29 persen mahasiswa berada pada kategori rendah dalam sikap mengakui keberadaan minoritas.

Pada aspek sikap tidak memaksakan  kehendak, sekitar 75,06 persen responden masuk dalam kategori sedang. Dimana para responden bersedia menerima dan menghargai pendapat dari teman yang berbeda agama maupun berbeda etnis.

Hanya 23, 68 persen mahasiswa yang memiliki sikap tidak memaksakan kehendak dengan nilai tinggi dan 1,26 persen dalam kategori rendah.

Dalam sikap saling menghargai perbedaan, seperti menghormati dan menghargai keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia sebanyak 81,61 persen atau sekitar 324 mahasiswa/mahasiswi yang mengisi survei masuk ke dalam kategori tinggi.

Dan 17, 88 persen berada pada kategori sedang. Serta hanya  0,50 persen yang berkategori rendah. Dalam tindakan intoleransi di lingkungan sekitar, mayoritas responden atau 72, 54 persen menyatakan penolakan, 23,43 persen ragu-ragu menolak dan 4,03 persen cenderung mendukung tindakan intoleransi tersebut. 

Dalam praktik toleransi, sebanyak 62,22 persen masuk ke dalam kategori tinggi. Lalu 37,53 persen berada pada kategori sedang atau ragu-ragu untuk melakukan praktik toleransi, dan hanya  0,25 persen saja yang memiliki praktik toleransi rendah.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved