Berita Malang Hari Ini

Bedah Buku Nicotine War, Ada Fakta di Balik Agenda Global Pengontrolan Tembakau

Bedah buku Nicotine War karya Wanda Hamilton diadakan pada Selasa (31/5/2022) di UB Guest House.

Kegiatan bedah buku Nicotine War di UB Guest House, Selasa (31/5/2022). 

SURYAMALANG.COM|MALANG-Bedah buku Nicotine War karya Wanda Hamilton diadakan pada Selasa (31/5/2022) di UB Guest House. Kegiatan ini bekerjasama dengan Komunitas Kretek dab LPM CANOPY Universitas Brawijaya Malang.

Tema yang diangkat adalah ‘Membedah Siasat Korporasi Farmasi Jualan Nikotin’. 

Hadir di acara itu Irfan Afifi (budayawan), Imanina Eka Dalila (Peneliti PPKE Universitas Brawijaya), dan Abhisam Demosa (Koordinator Nasional Komunitas Kretek 2010-2016) sebagai narasumber dan dipandu Edward S Kennedy yang dikenal sebagai penulis dan jurnalis.

Sejak dirilis pada 2011 hingga kini, Nicotine War selalu menjadi perbincangan di kalangan akademisi maupun umum.

Hasil riset dan kajian Wanda Hamilton menyajikan fakta-fakta  bahwa di balik agenda global pengontrolan tembakau, terdapat kepentingan besar dari bisnis perdagangan obat-obat yang dikenal sebagai Nicotine Replacement Therapy (NRT).

Dalam diskusi kali ini, Abhisam mengatakan, “Nicotine War” ini akan berimbas dengan punahnya kemandirian ekonomi.

"Industri kretek nasional adalah model industri berkarakter kuat modal, bahan baku, produksi, sampai konsumsi hampir seluruhnya bersandar di dalam negeri sendiri," jelas dia dalam siaran pers yang dikirim ke suryamalang.com, Rabu (1/6/2022).

Dan setelah kemandirian ekonomi punah, maka di saat yang sama hajat hidup orang banyak akan punah juga. Ada 5,98 juta orang yang terlibat langsung dalam industri kretek nasional.

Sedang sektor yang berhubungan secara tidak langsung digerakkan oleh 24,4 juta tenaga kerja. Jumlah keseluruhan tenaga kerja yang terserap industri ini mencapai lebih dari 30 juta orang.

Perang nikotin, sebagaimana digambarkan Wanda Hamilton sudah nyaris dimenangkan oleh korporasi-korporasi farmasi internasional.

Kesuksesannya melalui kampanye global antitembakau serta dukungan penuh dari WHO, lembaga kesehatan publik, pemerintahan dan NGO anti tembakau. 

Siasat bermitra dengan pemerintah, otoritas kesehatan publik, dan membuat propaganda kesehatan melalui jaringan media termasuk secara sistematis mengintervensi para dokter adalah semata untuk mematikan industri tembakau.

Tujuannya jelas, nikotin tidak lagi dikonsumsi melalui rokok, melainkan melalui racikan farmasi.

Isu antirokok itu sudah banyak kita temui sampai hari ini. Salah satu agenda besarnya adalah Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) terus diperingati di Indonesia setiap tanggal 31 Mei dengan berbagai kegiatan.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved