Berita Batu Hari Ini

Konsep Desa Wisata Batu Menjadikan Masyarakat Sebagai Objek Pariwisata

akademisi Universitas Muhammadiyah Malang menyebut konsep desa wisata di Kota Batu harus berorientasi terhadap kesejahteraan masyarakat

Salah satu sudut Kampung Wayang di Desa Beji. Program Desa Wisata oleh Dinas Pariwisata Kota Batu harus bisa menjadikan warga sebagai subjek, bukan objek pariwisata agar keberlangsungan program bisa dihidupkan terus. 

SURYAMALANG.COM|BATU - Konsep desa wisata di Kota Batu harus berorientasi terhadap kesejahteraan masyarakat. Selama ini, desa wisata hanya berfokus pada produknya.

Masyarakat hanya menjadi objek, bukan subjek. Alhasil, produk desa wisata hanya sekadar ada dan keberlangsungannya tidak lama.

Hal tersebut disampaikan Jamroji, D.COMM, akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang memiliki pengalaman mendampingi delapan desa di Kecamatan Bumiaji pada 2018 hingga 2020 untuk mengembangkan wisatanya. 

Pendampingan itu berakhir ketika pandemi melanda Indonesia pada awal Maret 2020. Jamroji mengungkapkan, orientasi desa wisata yang hanya melihat produk juga rawan akan kepentingan politik.

"Saya cukup lama terlibat, yang menjadi problem langsung ke wisatanya, bukan pemberdayaan ke masyarakat. Tidak berbasis ke masyarakat, sehingga akhirnya cenderung kekuatan politik," ungkapnya.

Selama dua tahun mendampingi delapan desa untuk mengembangkan wisatanya, Jamroji mengamati bahwa sebenarnya masih banyak masyarakat yang belum siap. Artinya, perlu waktu untuk meningkatkan kesadaran terhadap masyarakat akan potensi wisata lokal dari tempatnya.

Memang tidak dipungkiri bahwa program-program peresmian desa wisata banyak dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kota Batu. Hanya saja program tersebut terkesan sebatas formalitas saja. Tidak adanya kesiapan masyarakat memperburuk keadaan sehingga ketika selesai diresmikan, tidak ada keberlanjutannya.

"Memang ada produk wisatanya, tapi apakah layak jual atau tidak? Program-program yang ada saat ini terkesan tergesa-gesa. Ibarat orang makan, asal makan saja tidak ada nutrisi untuk tubuh," ungkapnya.

Jamroji menyarankan agar para birokrat memiliki empati yang luas terhadap masyarakat. Jangan sampai masyarakat terus-terusan menjadi objek. Menurut Jamroji, memang tidak mudah mengajak masyarakat totalitas terhadap konsep desa wisata, tapi tetap ada peluang di sana.

"Jadi memang harus sabar. Saat ini banyak masyarakat yang ingin instan karena melihat keberhasilan tempat di sebelahnya, misal seperti di Jodipan. Tentu saja berbeda antara Jodipan dengan Kota Batu. Tidak semua desa wisata seperti Jodipan. Masyarakat cenderung melihat potensi tetangga, tanpa fokus yang dimiliki sendiri," paparnya.

Dinas Pariwisata didorong untuk meningkatkan kreatifitas dan inovasi agar masyarakat, sebagai subjek, tidak berpikir analogi. Berpikir membandingkan dengan produk lain sehingga tidak fokus pada potensi yang ada di dalamnya.

Sering kali programnya juga tidak berdasarkan target market yang jelas. Sehingga media promosinya juga kurang tepat. Sekalipun tepat, penggunaan diksi maupun kalimat promosi di dalamnya tidak efektif. Kalimatnya terkesan formal. Jamroji menegaskan, pemberdayaan desa wisata tidak bisa instan. Maka dari itu, perlu kesabaran dan keterlibatan masyarakat sebagai subjek.


Di Desa Beji, ada Kampung Wayang. Tempat ini Diresmikan pada 2020 lalu. Setelah diresmikan. tidak banyak wisatawan yang datang ke Kampung Wayang. Sesekali, warga menggelar kegiatan untuk meramaikan lingkungan.


Rina Kurniawati yang membuka usaha kuliner di Kampung Wayang mengaku selama ini hanya menjadi objek semata. Ia berupaya sendiri mengembangkan usahanya. Sejak memulai usahanya pada 2021, ia belajar sendiri bagaimana mengelola dan mempromosikan produknya.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved