Travelling

Mengunjungi Rumah Cagar Budaya JL Anjasmoro 25, Pemilik Pertamanya Kepala RPH Kota Malang

Bangunan cagar budaya di Kota Malang adalah rumah di JL Anjasmoro 25. Rumahnya masih terawat bagus dan asri.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Tampak depan bangunan cagar budaya di JL Anjasmoro 25 Kota Malang, Selasa (21/6/2022). 

Ternyata pada kota praja Malang akan membangun RPH. 

Almarhum direkrut sebagai dokter hewan kota praja dan mengikuti proses pembangunan RPH dan diresmikan pada 1937 dan jadi kepala pertama.

"Saya menduga karena tidak menemukan catatan tertulis, Pak Slamet punya kesempatan mendapatkan rumah karena jabatannya. Saat itu, saya masih kecil dan Pak Slamet sudah tua. Saya tidak berhasil mendapatkan pernyataan resmi dari beliau," ungkapnya.

Rumah didapatkan dengan cara mengangsur ke kota praja mungkin dengan potong gaji.

"Jadi, rumah-rumah disini (Jl Anjasmoro) ada yang dibangun Belanda dan ada yang dibangun pemerintah kota praja, termasuk rumah ini dibangun pemeritah," katanya.

Jadi, untuk melihat arsitektur rumah tahun 1934-1935 an di Malang adalah di rumah ini.

Teman-teman almarhum neneknya juga kerap bertanya bagaimana jika selamatan sedang para tetangganya adalah orang Belanda.

"Almarhum nenek saya bilang, gampang. Kalau selamatan memanggil warga Oro-Oro Dowo," cerita Irawan.

Dan anehnya, sampai saat ini jika warga JL Anjasmoro mengadakan selamatan, maka masih memanggil warga Oro-Oro Dowo. 

Meski tipe vila pada waktu itu, rumahnya dikategorikan sederhana. Ada tiga kamar. Satu kamar di bagian depan dan dua lainnya di belakang.

Koneksi ruang tamu dan ruang keluarga (tengan) dibatasi pintu berkaca. Lantainya teraso polos.

"Kalau rumah orang kaya, lantainya pasti ada gambarnya," tambah Nana.

Tentang mengapa kakeknya dipilih sebagai Kepala RPH dan bukan orang Belanda ia juga kurang tahu pasti.

"Kemarin ngobrol dengan  teman komonitas, dicocok-cocokkan mungkin kan urusan potong hewan kan inlander, tukang potong kan pekerjaan lokal. Mungkin walikota  Belanda berpikir jika diisi orang Belanda mungkin kurang bisa komunikasi," paparnya.

Halaman
1234
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved