Travelling

Mengunjungi Rumah Cagar Budaya JL Anjasmoro 25, Pemilik Pertamanya Kepala RPH Kota Malang

Bangunan cagar budaya di Kota Malang adalah rumah di JL Anjasmoro 25. Rumahnya masih terawat bagus dan asri.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Tampak depan bangunan cagar budaya di JL Anjasmoro 25 Kota Malang, Selasa (21/6/2022). 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Salah satu bangunan cagar budaya di Kota Malang adalah rumah di JL Anjasmoro 25. Rumahnya masih terawat bagus dan asri.

Bangunan itu ditetapkan sebagai cagar budaya pada 2019 oleh Pemkot Malang. Sesuai UU RI nomer 11/2010 tentang cagar budaya dan perda nomer 1/2018 tentang cagar budaya, ada insentif pemotongan PBB sebesar 50 persen bagi pemiliknya.

Di rumah itu juga ada usaha jasa yang bekerjasama dengan PT Pos. Lokasinya ada di samping rumah itu.

Pemilik pertama rumah itu adalah almarhum Slamet, seorang dokter hewan yang merupakan kepala pertama Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang yang saat ini berada di kawasan Gadang. Slamet menjadi pimpinan sejak 1937 sampai pensiun pada 1953 

"Dulu (tempat usahanya) itu ya teras samping. Pada 1951 ditambahi atap dan jendela. Di foto tahun 1940 masih teras samping," jelas Irawan Prajitno, generasi ketiga yang menempati rumah itu pada suryamalang.com, Selasa (21/6/2022).

Cucu almarhum menempati bersama istrinya Nana Shanty dan empat ekor anjingnya. 

Menurutnya tak ada perubahan struktur yang dilakukan karena rumah kakeknya dalam kondisi masih bagus sampai sekarang. Begitu juga kayu-kayunya.

Ia memperkirakan rumah Anjasmoro 25 (amor 25) jadi bangunan cagar budaya karena mewakili jamannya, ada sejarahnya dan usianya sudah lebih dari 50 tahun. 

Rumah itu dulu tipe vila dan dibangun berdasarkan bouw plan ke 7 perencanaan tata kota Malang praja yang dibuat oleh Thomas Karsten, arsitektur Belanda.

Bagaimana Slamet yang orang Indonesia bisa masuk ke perumahan orang-orang Belanda di Anjasmoro, Irawan menduga karena aksesnya sebagai Kepala RPH. Sehingga terkesan unik karena berada di lingkungan orang Belanda.

Rumah dibangun pada 1935.

"Orang Jawa kok bisa memilih tinggal disini? Karena almarhum adalah dokter hewan dan punya sejarah sumbangan pada Malang," kata Irawan.

Sebelumnya, kakeknya kerap bertugas di luar Jawa. Pada 1930 an posisinya di Watampone, Sulawesi Selatan. Almarhum yang kelahiran 1899 ini memiliki empat anak.

"Kakek memikirkan pendidikan anaknya. Akhirnya berusaha balik ke Jawa dengan mencari lowongan pekerjaan. Waktu itu kota praja Malang mencari pekerja. Akhirnya melamar dan diterima," papar pria berkacamata ini.

Ternyata pada kota praja Malang akan membangun RPH. 

Almarhum direkrut sebagai dokter hewan kota praja dan mengikuti proses pembangunan RPH dan diresmikan pada 1937 dan jadi kepala pertama.

"Saya menduga karena tidak menemukan catatan tertulis, Pak Slamet punya kesempatan mendapatkan rumah karena jabatannya. Saat itu, saya masih kecil dan Pak Slamet sudah tua. Saya tidak berhasil mendapatkan pernyataan resmi dari beliau," ungkapnya.

Rumah didapatkan dengan cara mengangsur ke kota praja mungkin dengan potong gaji.

"Jadi, rumah-rumah disini (Jl Anjasmoro) ada yang dibangun Belanda dan ada yang dibangun pemerintah kota praja, termasuk rumah ini dibangun pemeritah," katanya.

Jadi, untuk melihat arsitektur rumah tahun 1934-1935 an di Malang adalah di rumah ini.

Teman-teman almarhum neneknya juga kerap bertanya bagaimana jika selamatan sedang para tetangganya adalah orang Belanda.

"Almarhum nenek saya bilang, gampang. Kalau selamatan memanggil warga Oro-Oro Dowo," cerita Irawan.

Dan anehnya, sampai saat ini jika warga JL Anjasmoro mengadakan selamatan, maka masih memanggil warga Oro-Oro Dowo. 

Meski tipe vila pada waktu itu, rumahnya dikategorikan sederhana. Ada tiga kamar. Satu kamar di bagian depan dan dua lainnya di belakang.

Koneksi ruang tamu dan ruang keluarga (tengan) dibatasi pintu berkaca. Lantainya teraso polos.

"Kalau rumah orang kaya, lantainya pasti ada gambarnya," tambah Nana.

Tentang mengapa kakeknya dipilih sebagai Kepala RPH dan bukan orang Belanda ia juga kurang tahu pasti.

"Kemarin ngobrol dengan  teman komonitas, dicocok-cocokkan mungkin kan urusan potong hewan kan inlander, tukang potong kan pekerjaan lokal. Mungkin walikota  Belanda berpikir jika diisi orang Belanda mungkin kurang bisa komunikasi," paparnya.

Kakeknya juga memiliki kemampuan berbahasa Madura karena pernah dinas di Sumenep Madura pada 1926.

Dikatakan Irawan, untuk perbaikan di rumah itu, paling hanya mengecat.

"Saya beruntung rumah kakek kokoh," katanya.

Untuk arsitektur rumah, orang Belanda merancang rumah di nusantara memakai kaidah barat.

Tapi mengadopsi hal-hal lokal. Sebab di Indonesia memiliki dua musim yaitu kemarau dan hujan. Agar tidak panas, maka dibangun langit-langit tinggi.

Selain itu ada angin ke plafon agar dingin. Terase lokal di bangunan tua juga bikin adem jika musim kemarau.  Supaya tidak bocor, orang Belanda membuat sudut kemiringan atap minimal 45 derajat.

Ketika orang Jepang datang setelah mengalahkan Belanda, rumah kakeknya dipinjam Jepang. Orang Belanda di Malang jadi tawanan.

"Saya diceritakan nenek saya, dulu tentara Jepang membuat interner/tempat menahan atau satu area dibatasi bagi orang Belanda," tuturnya.

Intinya orang Belanda ditawan.

Di Kota Malang, daerah gereja Ijen, Jl Guntur sampai Pasar Oro-Oro Dowo, Anjasmoro, Jl Raung, Jl Jakarta, Jl Salak (Pahlawan Trip), JL Ijen dipagar kawat oleh Jepang sebagai temoat tawanan anak-anak dan wanita Belanda.

Sedang laki-laki Belanda ditawan di JL Semeru-Kawi. Orang Belanda saat itu ada 5000 an. Karena kakek neneknya bukan orang Belanda, maka mereka diberi tempat di JL Ijen 37 sampai Jepang kalah.

Tapi masih ada perang agresi 1 dan 2 dimana Belanda ingin balik lagi. Singkat kata, kakeknya sampai mengungsi di Desa Peniwen, Kabupaten Malang.

Kemudian balik ke Malang menempati di JL Tanggamus 1 yang kini jadi rumah dinas sebuah bank pemerintah. Tahun 1950an, Slamet ingin kembali ke rumahnya di Anjasmoro. 

Untungnya ia tipikal tertib administrasi. Semua berkas rumah disimpan dan meminta bantuan ke tata praja Malang untuk mengurusnya.

Pada 1951, kakek neneknya kembali ke rumah itu yang terakhir dihuni orang lain. Meski ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, namun bukan berarti sebagai sebagai destinasi wisata.

Hal ini karena kepemilikan rumah adalah pribadi. Memang ada yang berkunjung tapi sifatnya pribadi karena ia suka ngobrol.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved