Berita Batu Hari Ini

BNPT Sering ke Kota Batu, Ini Sebabnya

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) sering menggelar kegiatan di Kota Batu.

Penulis: Benni Indo | Editor: Zainuddin
DISKOMINFO BATU
Dialog kebangsaan BNPT dan Forkopimda Kota Batu di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani 

SURYAMALANG.COM, BATU – Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) sering menggelar kegiatan di Kota Batu.

Tercatat sudah dua kali rapat kerja nasional BNPT dilakukan di Kota Batu dalam setahun terakhir.

Apa yang membuat Kota Batu begitu spesial sehingga dipilih?

Kepala BNPT, Komjen Boy Rafli Amar menjelaskan, BNPT memiliki kawasan terpadu yang berpusat di Kota Malang.

Oleh sebab itu, BNPT sering menyelenggarakan kegiatan penting di kawasan Malang Raya, termasuk Kota Batu.

“Kami punya kawasan terpadu di Kota Malang. Akhirnya, mau tidak mau aktivitas BNPT di Malang Raya bolak-balik. Sejak kami rintis tahun lalu, memerlukan rapat koordinasi, memerlukan perencanaan di lapangan, komunikasi dengan para stakeholder yang ada, itulah yang membuat kami sering ke Jawa Timur,” ujarnya.

Selain adanya kawasan terpadu, Rafli juga memanfaatkan momentum pandemi untuk membantu keberadaan kunjungan di tempat-tempat wisata. Pandemi telah mengakibatkan kota tujuan wisata terdampak parah.

Dengan adanya kegiatan skala nasional di Kota Batu, diharapkan dapat membantu kedatangan wisatawan.

“Di Kota Batu, dalam konteks rapat kerja nasional, juga kami manfaatkan. Kita juga tahu, di masa pandemi, kunjungan wisata itu minim. Kami juga manfaatkan Labuan Bajo. Kami juga ingin kegiatan kami bisa mendorong kunjungan wisata. Kota Batu kita tahu daerah wisata ketika masa pandemi juga terpukul,” paparnya.

Rafli datang ke Kota Batu dalam rangka silaturahmi dan dialog kebangsaan bersama Forkopimda Kota Batu di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani.

Dialog kebangsaan ini merupakan agenda rutin BNPT yang bertujuan untuk mengajak seluruh pihak, khususnya tokoh agama dan masyarakat mencegah paham radikal terorisme.

“Perkembangan dinamika saat ini perlu diperhatikan. Generasi muda harus diberi semangat nasionalisme dan bela negara, jika tidak difasilitasi maka bisa terjadi disorientasi dengan negaranya sendiri,” ujarnya.

Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Polisi Ahmad Nurwahid mengingatkan perlunya vaksinasi anti radikali terorisme kepada masyarakat.

Oleh sebab itu, dialog-dialog dengan masyarakat sangat penting untuk terus dijalin. Menurutnya, membahas terorisme tidak lepas dari paham radikalismenya.

“Kita terus mengurangi mengurangi stigma terorisme yang selalu diidentikan dengan agama tertentu. Tidak ada kaitannya radikalisme terorisme dengan agama apapun. Tidak ada satupun agama yang membenarkannya, tapi ini memang terkait cara beragama dan memahami agama yang menyimpang. Biasanya ini didominasi oleh oknum,” tegasnya.

Katanya, semua terorisme pasti dijiwai oleh paham radikalisme atau ekstrimisme.

Itulah virus ideologi yang berpotensi pada individu manusia, tidak terikat suku, agama, profesi bahkan kader intelektual. Oleh sebab itu harus dilawan dengan ‘vaksinasi’.

“Maka hati-hati menuntun umatnya. Mereka sering menyebarkan pahamnya lewat oknum penceramah, oknum pendidik, mereka potensial pintu masuk radikalisme sekaligus pintu keluar radikalisme,” paparnya.

Ahmad memaparkan survei peta radikalisme oleh Alvara Centre dan Mata Air Foundation. Hasilnya, 19.4 persen PNS tidak setuju Pancasila. 23,3 persen pelajar SMA setuju jihad untuk khilafah.

9.1 persen pegawai BUMN tidak setuju Pancasila. 23,4 persen mahasiswa setuju jihad untuk khilafah dan 18,1 persen pegawai swasta tidak setuju Pancasila.

Menurutnya, yang memicu gerakan terorisme paling utama adalah politisasi agama.

“Ciri-ciri mereka anti pemerintahan yang sah, bukan oposisi atau kritis namun sikap membenci dengan membangun ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan negara,” paparnya.

Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso menyatakan Pemerintah Kota Batu menyambut baik kegiatan dialog dengan para tokoh agama dan masyarakat.

Sebab, perlu adanya sinergi dengan seluruh elemen masyarakat untuk menangkal radikalisme.

“Vaksinasi ideologi dibutuhkan untuk menangkal ancaman yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan, dibutuhkan sinergi dari seluruh elemen masyarakat,” kata Punjul.

Punjul Santoso menambahkan, pemahaman masyarakat terkait wawasan kebangsaan, bela negara dan cinta tanah air perlu ditingkatkan karena semua berpotensi terpapar paham radikalisme.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved