Berita Batu Hari Ini

Kebijakan Lingkungan Kota Batu Harus Jadi Prioritas

WALHI Jawa Timur Wahyu Eka Setyawan mengingatkan Pemerintah Kota Batu agar kebijakan mengenai lingkungan betul-betul diprioritaskan.

Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
IST
Acara Rembuk Iklim: Kolaborasi Jurnalis dan Kaum Muda Jatim untuk Aksi Iklim. 

SURYAMALANG.COM, BATU – Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Timur Wahyu Eka Setyawan mengingatkan Pemerintah Kota Batu agar kebijakan mengenai lingkungan betul-betul diprioritaskan.

Menurutnya, kondisi alam Kota Batu saat ini banyak berubah karena masifnya pembangunan dan hal lainnya.

Dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Surabaya, bertajuk Rembuk Iklim: Kolaborasi Jurnalis dan Kaum Muda Jatim untuk Aksi Iklim, Wahyu berpendapat bahwa suhu di Kota Batu kian naik. Kenaikan suhu tersebut mengindikasikan adanya perubahan kondisi lingkungan di Kota Batu.

“Dari yang biasanya 21 derajat, kini telah naik menjadi 22 derajat hingga 23 derajat,” ujarnya.

Dampak dari kenaikan suhu tersebut salah satunya adalah pertanian apel. Melihat kondisi saat ini, pertanian apel sudah tidak lagi populer di Kota Batu.

Baca juga: Kota Batu Segera Membuka 92 Formasi P3K

"Apelnya malah dapat kiriman dari Nongkojajar," ungkapnya.

Pentingnya menjaga kondisi alam di Kota Batu berpengaruh besar pada kondisi di bawahnya. Kota Batu adalah hulu dari Kali Brantas, termasuk juga kawasan yang seharusnya bisa menjadi resapan air.

Nyatanya, belakangan bencana alam kerap terjadi. Terbaru adalah banjir bandang yang terjadi pada 4 November 2021. Melihat kenyataan tersebut, Wahyu berpendapat telah terjadi kerusakan di kawasan hulu Kota Batu.

Wahyu mengatakan krisis iklim nyata dan sudah terjadi. Dampak krisis iklim atau bahaya iklim berupa bencana  hidrometeorologi seperti angin kencang, hujan lebat, kemarau panjang dan banjir. Intensitas longsor di Kota Batu juga disebutnya naik 25 persen.

“Dampak banjir itu tidak hanya Kota Batu. Daerah Jodipan di Kota Malang juga terdampak karena air ini jalannya lewat sungai. Banjir bandang di Batu terjadi akibat kehilangan tutupan hutan di kawasan hulu Brantas seluas 150-350 hektare,” katanya.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved