Berita Malang Hari Ini

Museum Dispendukcapil Kota Malang, Punya Koleksi Pencatatan Sipil Bahasa Belanda Tahun 1826

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Malang baru saja melaunching museum Dispendukcapil di Gedung A Block Office lantai tiga.

suryamalang.com/rifky
Arsip kependudukan dan pencatatan sipil yang berada di museum Dispendukcapil Kota Malang. Arsip tersebut berisi tentang akta perkawinan dari tahun 1829 yang masih menggunakan bahasa belanda, Selasa (27/9/2022). 

SURYAMALANG.COM | MALANG - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Malang baru saja melaunching museum di Gedung A Block Office lantai tiga.

Museum yang baru di soft launching pada 30 Agustus 2022 ini memiliki puluhan koleksi.

Mulai dari KTP lama di tahun 60 an, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, mesin cetak hingga arsip kependudukan dan pencatatan sipil sejak tahun 1826.

Kepala Dispendukcapil Kota Malang, Eny Hari Sutiarny mengatakan, adanya museum yang ada di Dispendukcapil Kota Malang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat.

Sebab, dari arsip-arsip yang dimiliki oleh Dispendukcapil Kota Malang, masih menyimpan arsip lama dari tahun 1829.

Arsip tersebut berisi tentang akta kelahiran dan akta perkawinan yang tertulis latin menggunakan bahasa Belanda dan aksara jawa.

"Saya berpikir, sejak tahun 1800-an, masyarakat sudah mengerti hak sipilnya. Apalagi sekarang, yang semua sudah dimudahkan. Karena hak sipil milik semua warga Indonesia," ucapnya.

Dari situlah, perempuan berhijab tersebut menginginkan adanya sesuatu yang dapat mengedukasi masyarakat terkait dengan pencatatan sipil ini.

Apalagi, museum Dispendukcapil ini dibuat tidak menggunakan anggaran APBD Kota Malang.

Tetapi menggunakan anggaran swadaya dari pegawai yang bertugas di Dispendukcapil Kota Malang.

"Anggarannya memang tidak ada. Kami swadaya, dari beberapa teman dan saya. Kalau saya menggunakan TPP saya. Gaji saya sebagian saya sisihkan untuk kepentingan museum," ujarnya.

Meski belum dilaunching secara resmi, masyarakat yang ingin melihat koleksi museum di Dispendukcapil Kota Malang tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis.

Selain memiliki koleksi arsip kependudukan dan pencatatan sipil, juga terdapat mesin cetak hingga kursi zaman dulu yang digunakan oleh petugas Dispendukcapil.

Koleksi tersebut tersimpan rapi di dalam museum, meski tidak semuanya dikeluarkan, karena keterbatasan tempat. 

Dengan adanya museum ini, Eny berharap, dapat mengedukasi masyarakat dan menambah fasilitas publik di kantor Dispendukcapil Kota Malang.

"Karena memang ini belum diresmikan secara resmi oleh pak wali, jadi kami butuh masukan dan saran. Kalau sudah bagus, baru nanti kamu resmikan," tandasnya.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved