TRAGEDI AREMA VS PERSEBAYA

Cerita Pemain Persebaya Kala Tragedi Stadion Kanjuruhan, Barracuda Dicegat Aremania

Cerita Pemain Persebaya Kala Tragedi Stadion Kanjuruhan, Barracuda Dicegat Aremania Setelah Laga Lawan Arema FC

Penulis: Khairul Amin | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Purwanto
Laga Arema FC vs Persebaya Surabaya pekan 11 Liga 1 2022 di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022). 

SURYAMALANG.COM - Sepak bola Tanah Air sedang berduka akibat insiden kerusuhan pasca laga Arema FC vs Persebaya Surabaya yang merenggut 174 korban jiwa berdasarkan data siang tadi yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Minggu (2/10/2022).

Pada laga yang digelar di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022) kemarin malam itu, kerusuhan terjadi akibat luapan kekecewaan Aremania atas kekalahan timnya.

Usai peluit panjang, suporter Arema FC merangsek masuk ke tengah lapangan mengejar dua tim untuk meluapkan kekecewaan.

Akibat massa yang tidak terkendali, petugas keamanan melepaskan gas air mata.

Baca juga: Buntut Tragedi Stadion Kanjuruhan, Manajemen Arema FC Siap Menerima Sanksi Berat dari Komdis PSSI

Baca juga: Saksi Hidup Tragedi Stadion Kanjuruhan, Aremania Jalur Gazza Lihat Wajah Teman Tewas Berwarna Biru

Ungkapan duka disampaikan oleh salah satu pemain Persebaya, Arief Catur, ketika dikonfirmasi SURYAMALANG.COM, ia cukup menyayangkan kejadian tersebut.

"Sangat di sayangkan. Banyak yang meninggal dunia. Sedih lihatnya," Ungkap Arief Catur, Minggu (2/10/2022).

Pemain jebolan Tim PON Jatim itu sedikit menceritakan situasi saat terjadinya kerusuhan di mana tim Persebaya sempat tertahan selama beberapa jam di area Stadion Kanjuruhan di dalam mobil barracuda akibat akses jalan pintu keluar stadion ditutup massa.

"Selesai pertandingan kami dikasih waktu lima menit masuk ruang ganti, terus masuk barracuda tapi dihadang Aremania. Satu jam lebih gak bisa jalan," ceritanya.

Sempat tertahan, akhirnya empat barracuda yang dikendarai tim Persebaya masuk area Surabaya pukul 02.00 WIB dini hari dengan pengawalan ketat pihak kepolisian selama perjalanan.

"Sampai Marina jam tiga-an, menjelang subuh," ucapnya.

Ia berharap kejadian ini menjadi yang terakhir di sepak bola Tanah Air karena nyawa tidak sebanding dengan sepak bola dan apapun.

"Semoga ke depannya tidak terulang lagi hal yang sama, jadikan ini yang terakhir, karena nyawa dan kemanusiaan di atas segalanya," pungkas Arief Catur

Update Google News SURYAMALANG.COM

 

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved