Tragedi Arema Vs Persebaya

Musibah Kubro Sepak Bola, Mengapa Mesti Terjadi?

MATA dunia saat ini dengan pandangan tajam, nanar dan menyala tertuju ke  Indonesia.

Editor: Zainuddin
istimewa
Menko PMK Muhaddjir Effendy menjenguk korban musibah kubro Stadion Kanjuruhan Malang yang dirawat di RS Kepanjen Malang, Minggu (2/10/2022). 

Oleh: Anwar Hudijono

(Wartawan senior tinggal di Sidoarjo. Peraih PWI Jatim Award untuk kategori Tokoh Pers Daerah 2022)

 

MATA dunia saat ini dengan pandangan tajam, nanar dan menyala tertuju ke  Indonesia.

Tepatnya di Stadion Kanjuruhan yang terletak sekitar 17 kilometer arah selatan Kota Malang.

Pasalnya, di sinilah pada hari Sabtu, 1 Oktober 2022 terjadi musibah kubro, tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.

Hampir 200 nyawa melayang,  ratusan orang menderita luka-luka, sebagian dalam kondisi kritis menyusul situasi anarkis penonton. 

Musibah  kubro ini melampaui tragedi terbesar sebelumnya yaitu kerusuhan Stadion Heysel Brussels, 29 Mei 1985 akibat dinding stadion roboh menyusul bentrokan suporter fanatik Liverpool, Inggris dengan Juventus, Italia.

Sebanyak 39 nyawa melayang dan 600 luka-luka. Sebanyak 14 suporter dihukum karena pembunuhan.

Musibah kubro Kanjuruhan terjadi dalam pertandingan tuan rumah Arema FC melawan musuh bebubuyutannya,  Persebaya Surabaya.

Pertandingan ini tidak disaksikan suporter Persebaya untuk mengantisipasi bentrokan seperti yang sudah sering terjadi sejak Arema bermarkas di Stadion Gajayana Kota Malang.

Anarkisme pecah ketika pertandingan berakhir 2-3 untuk kemenangan Persebaya.

Tiba-tiba penonton seperti banjir bandang dari jebolnya bendungan turun dari tribun membanjiri lapangan hijau.

Para pemain, wasit dan kru pertandingan berhasil menyelamatkan diri masuk ke dalam ruang ganti.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved