TRAGEDI AREMA VS PERSEBAYA

Komnas PA Kota Batu Sesalkan Ada Korban Anak-anak Tragedi Kanjuruhan

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Kota Batu, Fuad Dwiyono menyayangkan adanya anak-anak yang menjadi korban tragedi Stadion Kanjuruhan.

suryamalang.com/Benni Indo
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Kota Batu, Fuad Dwiyono menyayangkan adanya anak-anak yang menjadi korban tragedi Stadion Kanjuruhan. Ia berpendapat, banyaknya anak-anak yang menjadi korban tersebut menjadikan peristiwa itu sebagai duka yang mendalam. 

SURYAMALANG.COM|BATU - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Kota Batu, Fuad Dwiyono menyayangkan adanya anak-anak yang menjadi korban tragedi Stadion Kanjuruhan.

Ia berpendapat, banyaknya anak-anak yang menjadi korban tersebut menjadikan peristiwa itu sebagai duka yang mendalam.

Anak-anak seharusnya mendapatkan perlindungan dan kenyamanan, namun justru menjadi korban. Fuad mendesak agar regulasi yang memperbolehkan anak masuk stadion ditinjau dan bila perlu diperbaiki.

Harus ada regulasi yang jelas dan tegas agar ada pembatasan usia bagi yang masuk stadion.

"Yang jelas kami turut berbelasungkawa atas tragedi yang seharusnya tidak terjadi. Ini tragedi nasional dan internasional. Kita melihat ada 17 anak di bawah umur ang menjadi korban, mirisnya lagi ada usia 2 tahun. Harapannya ke depan ada aturan bagaimana batasan usia untuk menonton di dalam stadion," ujarnya.

Ia juga menyerukan agar para orangtua tidak mengajak anak-anaknya yang masih di bawah umur untuk masuk stadion. Risikonya terlalu tinggi.

"Ini menjadi catatan bersama, bagaimana menonton sepak bola itu juga harus mempertimbangkan ketentuan usia," terangnya.

Di tempat terpisah, Ade d'Kross yang mewakili Aremania bertemu dengan Menko PMK, Muhadjir Effendy di Universitas Muhammadiyah Malang.

Ade mendesak pemerintah agar bisa menghadirkan keadilan paca terjadi peristiwa di Stadion Kanjuruhan yang menurut laporan pemerintah mengakibatkan 125 orang meninggal dunia.

"Kami minta keadilan!" tegas Ade.

Dipaparkannya, Aremania telah mengumpulkan pelaku organisasi profesi pengacara untuk membentuk semacam tim advokasi. Mereka akan mendampingi para korban untuk mendapatkan keadilan.

"Kesepakatan kami, bahwa selesai tahlil di hari ketujuh nanti itu menjadi deadline. Jika tidak ada tersangka, maka kami akan turun ke jalan dengan masa sebesar-besarnya. Jika dalam waktu tujuh hari tidak ada tersangka, seluruh Aremania akan turun ke jalan dengan masa yang jauh lebih besar dari stadion. Saya hanya menyuarakan amanah dari adik-adik. Dengan satu catatan, itu aksi damai. Tidak ada satu korban lagi," tegasnya. 

Dalam diskusi tersebut, banyak cerita dan harapan dititipkan kepada Muhadjir. Aremania meminta agar ada keadilan bagi terhadap para korban. Muhadjir sendiri berkomitmen akan menyampaikan pesan-pesan Aremania yang telah ia dengarkan kepada Menko Polhukam, Mahfud MD.

"Presiden juga minta harus ada yang bertanggungjawab. Darah saya Arema, jangan diragukan keberpihakan saya ke Arema. Tugas saya sebagai Menko PMK, memastikan kotban tertangani dengan baik. Mulai mendata dari yang cedera, sampai yang meninggal. Pak Mahfud sudah diperintah presiden untuk menyusun tim pencari fakta. Di situ nanti, pihak-pihak yang berkaitan langsung, dilibatkan," ujar Muhadjir.

Setelah melakukan pertemuan di Universtias Muhammadiyah Malang, Muhadjir berpindah ke Stadion Gajayana. Di sana, ia bertemu dan berdiskusi dengan para Aremania. (Benni Indo)

 

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved