TRAGEDI AREMA VS PERSEBAYA

Cerita Trauma Orangtua Korban Luka Tragedi Kanjuruhan, Larang Anak Tonton Sepak Bola di Stadion

Sugeng (50) menjadi satu di antara ratusan orangtua di Kota Malang, yang melarang sang anak untuk menyaksikan pertandingan di dalam stadion. 

surya.co.id/Luhur Pambudi
Sugeng (50) ayahanda Risky Dendi Nugroho (19), satu di antara puluhan orang korban luka akibat tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, yang dirawat di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang 

SURYAMALANG.COM

|SURABAYA- Sugeng (50) menjadi satu di antara ratusan orangtua di Kota Malang, yang melarang sang anak untuk menyaksikan pertandingan di dalam stadion. 

Bagaimana tidak, anaknya yang baru lulus SMA bernama Risky Dendi Nugroho (19) juga menjadi satu di antara ratusan orang korban luka berat yang dirawat inap di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang. 

Kakek dua cucu yang sehari-hari berjualan nasi goreng tersebut, mengatakan, anaknya masih harus dirawat karena terlalu banyak menghirup gas air mata yang dilontarkan aparat ke dalam tribun penonton, saat terjadinya kerusuhan di dalam Stadion Kanjuruhan.

"Ya traumanya seperti ini, masalah keamanan kok gak seperti diharapkan. Kok terjadi seperti ini. Apalagi sampai meninggal sebegitu banyaknya," kata Sugeng. 

 

Baca juga: Tragedi Gate 14 Kanjuruhan, 5 Sahabat Meninggal dan Satu Orang Selamat Setelah Lompat dari Pagar

Apalagi saat teringat bagaimana dirinya berupaya mencari keberadaan sang anak yang sempat hilang, saat insiden kelabu Sabtu (1/10/2022) malam terjadi. 

Ia tak tahu bagaimana kondisi sang anak, kala itu. Ada sekitar lima rumah sakit yang didatanginya. 

Saking cemesnya, tak menemukan sang anak di ruang perawatan, Sugeng sampai membuka satu per satu kantung berisi mayat korban itu. 

Baca juga: Kisah Traumatis Jurnalis Malang di Tengah Kengerian Tragedi Kanjuruhan, Tak Kuat Lihat Korban Bocah

Hingga tanpa sadar, seingat Sugeng, dirinya telah membuka lebih dari 50 kantong mayat di beberapa rumah sakit. 

"Saya melihat sendiri jenazah begitu banyaknya untuk cari anak saya. Saya buka (kantong) jenazah lebih dari 50 di 2 rumah sakit.  Waduh saya enggak bisa mikir. Saya mikiri kondisi kuat saja," ungkapnya. 

Ditemui TribunJatim.com di depan IGD RSSA Kota Malang, Senin (3/10/2022). Sugeng mengaku trauma. Ia secara tegas, tidak bakal mengizinkan sang anak menonton pertandingan sepak bola secara langsung di dalam stadion. 

Jikalau memang terpaksa, paling, Sugeng akan meminta sang anak menyaksikan pertandingan sepak bola melalui layar kaca televisi. 

"Ya enggak. Usah melihat seperti itu, gak usah lihat sepak bola, kalau mau lihat ya dari TV aja. 
Keamanan Stadion harus ditingkatkan. Ya soal kemarin (gas air mata) dari mana asal usulnya ya dari aparat kemarin," pungkasnya. 

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved