Berita Surabaya Hari Ini

Terduga Teroris yang Ditangkap Densus 88 di Surabaya Pernah Diusir Ibu Kos

Terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Mabes Polri tinggal di sebuah kamar kosan lantai dua, Jalan Tanjungsari, Surabaya

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: rahadian bagus priambodo
surya.co.id/Luhur Pambudi
Suasana depan gudang yang digeledah berlokasi di Pergudangan Mutiara Margomulyo Permai, Blok A 44, Tandes, Surabaya, Rabu (2/11/2022) siang 

SURYAMALANG.COM|SURABAYA- Seorang pria terduga teroris yang dikabarkan diamankan Anggota Densus 88 Mabes Polri, di kawasan Tandes, Surabaya, ternyata pernah diusir oleh pemilik kosan tempatnya tinggal. 

Informasinya, terduga teroris tersebut, berusia kisaran 25 tahun. Diketahui, sosok tersebut pernah tinggal di sebuah kamar kosan lantai dua, Jalan Tanjungsari Jaya Utara, Gang 9 no 6, Suko Manunggal, Surabaya. 

Namun, seorang terduga teroris tersebut, hanya tinggal kurun waktu dua bulan, yakni sekitar bulan Februari hingga Maret tahun 2022. 

Dan, saat hendak memperpanjang masa tinggalnya di kosan dengan harga sewa Rp400 ribu, per bulannya itu.

Terduga teroris tersebut, tidak diperbolehkan oleh si pemilik kosan, karena tidak pernah mau menyerahkan KTP ataupun identitas lain, sebagai syarat administrasi untuk menetap di permukiman tersebut. 

Hal tersebut diungkapkan sendiri oleh sang pemilik kosan, Yatun (60). Nenek enam cucu tersebut, mengaku, enggan memberikan kesempatan terduga teroris tersebut menambah masa waktu tinggal karena enggan mengikuti aturan yang ditetapkannya. Yakni menyetorkan bukti fotocopy KTP ataupun identitas kependudukan yang lain. 

Akibatnya, saat terduga teroris tersebut hendaklah mengajukan penambahan masa tingga, untuk bulan ketiga. Yatun secara tegas menolaknya. 

"Sebelum lebaran ngekosnya. Sebelum lebaran sudah saya usir. (Sekitar maret april). Gak hafal saya. Setelah keluar. Saya gak hafal. Iya saya usir, KTP gak dikasih. Saya takut," ujarnya saat ditemui awak media di kediamannya, Rabu (2/11/2022). 

Yatun tak menampik, sosok penyewa kosannya itu, memang terbilang jarang berkomunikasi ataupun bersosialisasi dengan warga setempat. 

Jangankan dengan para tetangga. Yatun, mengatakan, dengan dirinya saja, sosok penyewa yang dikenalnya sebagai warga Pasuruan itu, jarang berkomunikasi. 

"Enggak tahu sama sekali (komunikasi) sama orang. Enggak pernah keluar. enggak pernah bersosialisasi. Belum ada polisi ke sini," jelasnya. 

Saking jarangnya, berkomunikasi dan bersosialisasi dengan warga. Yatun, beserta anggota keluarga dan para tetangganya yang lain, sampai tidak mengetahui, nama dari sosok penyewa tersebut. 

"Di warga Pasuruan, gak tahu kerjanya di gudang atau mana. Dia keluar pagi jam 8. Pulangnya enggak tahu, iya malam. Laki aja yang ke sini. Masih muda, iya lupa saya masih kecil, iya 25 tahunan," ungkapnya. 

Bahkan, selama kurun waktu dua bulan menetap di kosan tersebut. Yatun mengungkapkan, sesosok pria penyewa tersebut, sempat mengajak istri dan anaknya yang masih balita, pada masa tinggal bulan kedua.

"Dia dari Pasuruan. Kalau istrinya saya enggak tahu. Iya tinggal (3 orang) istri dan anaknya, tapi sama anaknya sebentar," pungkasnya. 

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved