Berita Malang Hari Ini
Demi Keluarga, Kepala Madrasah Ibtidaiyah di Malang Buka Usaha Cukur Rambut
"Usaha cukur rambut itu sebagai sambilan saja. Sekolah tetap jadi utama sebagai dakwah. Sebagai pejuang madrasah swasta itu harus punya sampingan."
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Yuli A
"Usaha cukur rambut itu sebagai sambilan saja. Sekolah tetap jadi utama sebagai dakwah. Sebagai pejuang madrasah swasta itu harus punya sampingan."
SURYAMALANG.COM, MALANG - Pada Hari Guru Nasional Jumat (25/11/2022) selalu ada cerita tentang guru di balik itu. Salah satunya dari pejuang madrasah bernama Husaini.
Dia bekerja sebagai Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Quran di Jl Muharto gang V nomer 130 Kota Malang. Pada malam harinya, ia membuka usaha cukur rambut untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya.
"Usaha cukur rambut itu sebagai sambilan saja. Sekolah tetap jadi utama sebagai dakwah. Sebagai pejuang madrasah swasta itu harus punya sampingan," kata Husaini pada suryamalang.com saat ditemui di sekolahnya. Menurutnya ia juga mendirikan RA/TK yang dipegang adik iparnya.
Dikatakan, ada empat anaknya yang membutuhkan biaya besar karena ada yang kuliah. Dikatakan, karena MI-nya bukan dari yayasan besar, maka pemasukkan sekolah dari SPP siswa, bosnas dan bosda. Karena itu honor pada guru tidak besar. Karena itu sempat ada guru yang keluar dan akhirnya beralih ke pekerjaan lain. Di MI-nya ada 12 guru.
"Sebab kemampuan memberi honor guru tidak besar," jelasnya. Karena itu di momen Hari Guru Nasional, ia minta guru swasta harus diperhatikan karena penghasilan di bawah UMK. Ini juga berdampak pada prestasi. "Jika dibantu pemerintah, kami akan senang meski belum UMK," katanya. Dikatakannya, meski honornya gak mencukupi, pekerjaan jadi guru tetap dilakoni.
Tentang usaha cukur rambut itu sudah sejak sebelum menikah. Ia belajar otodidak. Dimana sejak kelas 5 SD, ia sudah bisa mencukur saat mondok di Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep. "Kalau Jumat sampai antri yang mau cukur karena sunah," cerita Ketua Forkom Madrasah dan SMP Swasta Kota Malang ini.
Namun ia tak pernah kepikiran untuk membuka jasa saat itu. Pada 1991, ia lulus MA dan langsung ke Malang ke ponpes pamannya di lokasi MI saat ini. Ia sempat kembali ke Pulau Sapeken karena diajak kades baru menjadi sekdes selama dua tahun. Dengan alasan meneruskan kuliah, ia kembali ke Malang. Ia sempat buka usaha cukur rambut di JL Terusan Surabaya pada 1995-1997.
Kemudian pindah ke Buring Kota Malang pada 1998. Alasan ia tetap menekuni jasa cukur rambut karena tidak ada risiko besar karena hanya menawarkan jasa. Selain itu juga halal. Biaya cukur rambut Rp 10.000 per orang. Setelah pandemi diakui usahanya agak sepi. Tapi tetap ditekuni dan persaingan makin banyak.
"Saya juga nyukur anak muda. Dari mereka, saya juga belajar model dari youtube," paparnya. Misalkan model mulet. Maka ia belajar melihat dari youtube agar update. "Mencukur itu harus ada jiwa seni juga. Dari pengalaman, saya sudah tahu wajah ini cocok dengan model rambut apa. Bahkan dengan melihat model kepalanya, saya tahu cocoknya model apa," tandasnya.
Ia memiliki seorang langganan mulai TK sampai jadi polisi. Ia ingat, ibu anak itu guru SMP dan ayahnya tentara. "Pas TK dulu rewel kalau dicukur. Padahal baru separuh. Akhirnya saya minta pulang dan tidak bayar. Sampai kini jika cukur rambut ke tempatnya.
"Jadi tukang cukur rambut itu seperti guru. Selalu diiingat. Ada yang muridnya jadi presiden, tapi tetap saja jadi guru," katanya. Ia berharap para anggota DPRD Kota Malang mau turun melihat sekolah-sekolah dan madrasah swasta sesuai dapilnya agar mengetahui kondisi sekolah.
"Sebab jumlah madrasah dan sekolah swaata itu dominan di Kota Malang," ujarnya. Ia menjelaskan ini untuk mengetuk hati karena meski madrasah di bawah Kementrian Agama, namun anggota dewan harusnya lebih fleksibel kemana-mana. Jasa usaha cukur rambutnya dibuka mulai pukul 19.00 WIB sampai pukul 21.30 WIB. Jika sedang ramai bisa sampai pukul 22.00 WIB.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Husaini-Kepala-MI-Darul-Quran-di-Jl-Muharto-gang.jpg)