Berita Malang Hari Ini

Dosen UMM Beri Spesifik Rumah Tahan Gempa Berkaca Kasus Gempa Cianjur

Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir Erwin Rommel MT memberi saran rumah tahan gempa berkaca dari kasus gempa Cianjur

99percentinvisible.org
ILUSTRASI - Uji coba rumah tahan gempa di Jepang  

SURYAMALANG.COM-MALANG- Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ir Erwin Rommel MT memberi saran rumah tahan gempa berkaca dari kasus gempa berkekuatan 5,6 magnitudo di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Gempa Cianjur yang terjadi pada 21 November 2022 pukul 13.21 itu meluluhlantahkan berbagai bangunan dan menelan ratusan korban jiwa 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan bahwa gempa ini merupakan siklus 20 tahunan yang akan melanda Cianjur.

Menurut Erwin, ada beberapa hal yang membuat banyaknya bangunan roboh saat gempa berkekuatan 5.6 magnitudo itu menerjang Cianjur. 

Penyebabnya adalah posisi pusat gempa, jenis patahan, kondisi lapisan tanah dan kondisi bangunan yang ada di Cianjur.

Pusat gempa berada pada jalur sesar Cimandiri dengan kedalaman kurang dari sepuluh kilometer yang masuk dalam kategori gempa dangkal.

Sedang karakteristik tanah di Cianjur labil karena berupa lereng bukit dan pegunungan.

Hal ini terlihat dari topografi tanah di Cianjur yang berupa lereng-lereng bukit dan pegunungan. Kondisi tersebut menyebabkan tanah menjadi rawan longsor jika terjadi gempa.

"Sebagian besar bangunan di Cianjur adalah bangunan rendah dan bangunan sederhana yang belum memenuhi kaidah rumah tahan gempa," kata dia, Kamis (24/11/2022). 

Tentang spesifikasi rumah tahan gempa, Kepala Badan Pengawasan Pembangunan Kampus (BP2K) UMM itu mengatakan bahwa untuk membangun rumah sederhana tahan gempa perlu memperhatikan banyak hal. Pertama membuat bangunan dengan bentuk sesimetris mungkin. 

Kedua, cukup tersedianya pengaku pada dinding. Minimal setiap 12 meter persegi luasan dinding harus diberikan kolom dan balok praktis.

Dan ketiga, memberi pengangkuran yang cukup pada setiap sambungan elemen pada bangunan. Misalnya sambungan dari dinding ke balok pondasi, sambungan dinding ke kolom, ataupun sambungan balok ke konstruksi atap.

Dikatakan, ada beberapa model bangunan sederhana tahan gempa sudah dikenalkan kepada masyarakat oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). 

Seperti rumah sederhana tahan gempa berbahan kayu, bambu, dan beton. Spesifikasi utama yang harus dipenuhi agar rumah tahan gempa yakni adanya integritas bangunan.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved