TRAGEDI AREMA VS PERSEBAYA

Aremania Dukung Polisi Tetapkan Tersangka Baru dari Pihak Federasi Sepak Bola, Datangi Polda Jatim

Sebanyak 7 orang perwakilan Aremania beraudiensi dengan pihak Ditreskrimum Polda Jatim untuk memperoleh informasi penanganan kasus Tragedi Kanjuruhan

Penulis: Luhur Pambudi | Editor: Dyan Rekohadi
TribunJatim/Luhur Pambudi
Perwakilan Aremania Kabupaten Malang, Zulham Rahmat Mubarok usai menanyakan perkembangan penanganan kasus Tragedi Lanjuruhan, termasuk menyampaikan tuntutan menambah tersangka di Mapolda Jatim, Senin (28/11/2022) 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Aremania mendukung polisi untuk menjerat unsur federasi sepak bola (PSSI) menjadi tersangka dalam kasus Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022.

Bukan hanya berharap polisi yang menangani kasus Tragedi Kanjuruhan untuk menetapkan unsur PSSI sebagai tersangka, Aremania juga tetap menuntut para penembak gas air mata untuk dijadikan tersangka.

Tuntutan Aremania itu disampaikan langsung oleh para perwakilan yang hari ini datang ke Mapolda Jatim,Senin (28/11/2022). 

Baca juga: Format Latihan Arema FC Jika Liga 1 2022 Dimulai, Sistem Bubble Jadi Polemik untuk Persib Vs Persija

Sebanyak 7 orang perwakilan Aremania beraudiensi dengan pihak Ditreskrimum Polda Jatim untuk memperoleh informasi perkembangan penanganan kasus Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang, Senin (28/11/2022). 

Dalam audiensi yang digelar secara tertutup di Ruang Pertemuan Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim itu, dihadiri oleh perwakilan Aremania Grassroot, Aremania Malang Timur, Aremania Malang utara, dan Aremania dari Kepanjen.

Perwakilan Aremania Kabupaten Malang, Zulham Rahmat Mubarok mengatakan, semula pihaknya ingin menyampaikan dua poin utama tuntutan yang bersumber dari keresahan para Aremania selama melihat penanganan kasus tersebut. 

Poin pertama, yakni mendesak pihak kepolisian untuk segera menetapkan tersangka baru atas kasus tersebut.

Meliputi tersangka dari pihak anggota kepolisian yang secara langsung melakukan penembakan gas air mata ke arah tribun penonton. 

Kemudian, tersangka dari pihak Federasi Sepak Bola Indonesia. Karena, dianggap sebagai penanggungjawab utama pelaksanaan pertandingan tersebut.

"Pertama, kami berharap sebenarnya dari Federasi (PSSI) ini lebih diutamakan. Karena mereka yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pertandingan. Dan harusnya mereka punya independensi dalam pengelolaan pertandingan yang caos ini," katanya, di depan Gedung Ditreskrimum Mapolda Jatim, Senin (28/11/2022). 

Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule bersama Wakil Ketua Umum PSSI, Iwan Budianto tiba di Mapolda Jatim untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 133 orang suporter, sekitar pukul 12.59 WIB, Kamis (20/10/2022).
Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule bersama Wakil Ketua Umum PSSI, Iwan Budianto tiba di Mapolda Jatim untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 133 orang suporter, sekitar pukul 12.59 WIB, Kamis (20/10/2022). (SURYAMALANG.COM/Luhur Pambudi)

Namun, mengenai hal tersebut, Zulham menambahkan, pihaknya telah memperoleh jawaban secara lengkap dari pihak penyidik kasus tersebut yang disaksikan pula oleh Direktur Ditreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Suharyanto dan Direktur Ditintelkam Polda Jatim Kombes Pol Dekananto Eko Purwono. 

Bahwa, penanganan hukum terhadap pihak yang melakukan penembakan gas air mata kepada suporter telah dilakukan proses sidang etik internal kepolisian, terhadap 20 orang anggota kepolisian yang berjaga dalam penanganan pertandingan tersebut. 

"Tadi dijelaskan panjang lebar. Jumlahnya ada 20 orang. Tadi kami dorong; kenapa mereka tidak ditersangkakan juga. Kami dijelaskan panjang lebar, bahwa prosesnya nanti akan lebih terang benderang di pengadilan," katanya. 

Poin kedua, yakni adanya keterbukaan mekanisme penyidikan kasus tersebut, agar masyarakat dapat mengetahui sejauh mana proses peradilan kasus tersebut bergulir. 

Termasuk sejauh mana proses pemberkasan perkara terhadap enam orang tersangka tersebut. 

"Karena teman-teman Arema ingin menunggu fakta yang bisa dibuka di persidangan. Kami tunggu betul. Terang benderangnya perkara ini. Sangat jelas di persidangan. Ini kami tunggu, sampai sekarang belum jelas. Semuanya berbicara mengenai prosedur hukum; yang gak bisa dipublikasikanlah, yang internallah, semua menunggu," pungkasnya. 


Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto mengatakan proses sidang etik terhadap para penembak gas air mata akan segera dilaksanakan setelah melihat hasil proses peradilan terhadap tindak pidana yang akan digelar dalam waktu dekat di pengadilan. 

"Dulu pernah disampaikan bahwa 20 orang sudah dilakukan sidang kode etik. Cuma menunggu gimana proses sidang di pengadilan. Sehingga polisi tidak salah dalam penjatuhan di kode etik nanti. Tapi yang jelas ini masih berproses. Mereka sudah gak punya jabatan semua di Polda," pungkasnya. 

 

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved