Berita Jember Hari Ini

Modus Indriani Deswita Rugikan RSUD dr Soebandi Jember Hingga Rp 355 Juta

Mantan pegawai RSUD dr Soebandi, Indriani Deswita Dewi, merugikan rumah sakit hingga Rp 355 juta. Beginilah modusnya.

Editor: Yuli A
kejari
Indriani Deswita Dewi, tersangka penyelewengan obat-obatan di RSUD dr Soebandi keluar dari ruang penyidikan Kajari Jember, Jawa Timur, Selasa (29/11/2022). 

Mantan pegawai RSUD dr Soebandi, Indriani Deswita Dewi, merugikan rumah sakit hingga Rp 355 juta. Beginilah modusnya.

Reporter: Imam Nawawi

SURYAMALANG.COM, JEMBER - Mantan pegawai RSUD dr Soebandi, Indriani Deswita Dewi, ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Negeri (Kajari) Jember, Jawa Timur karena kasus penyelewengan obat-obatan. 

Wanita yang tinggal di Perumahan Perum Bintoro Garden Hill, Dusun Plalangan, Kelurahan Bintoro Kecamatan Patrang, itu bekerja menjadi staf administrasi depo farmasi rawat jalan sejak tahun 2016 hingga 2021. 

Kepala Kejari Jember, I Nyoman Sucitrawan, menjelaskan, saat masih bekerja di RSUD Soebandi, tersangka memilik kewenangan untuk memasukan obat-obatan pasien. 

"Untuk memasukan obat itu, harus melalui resep (dokter), seharusnya yang diserahkan kepada pasien tersebut sesuai resep. Ternyata tersangka ini tidak mengeluarkan resep itu," katanya, Selasa (29/11/2022). 

Menurutnya, tersangka memasukkan data pasien BPJS Kesehatan untuk mendapatkan obat, kemudian dijual ke pihak lain sehingga hal tersebut merugikan pihak rumah sakit. 

Akibat ulah tersangka, pihak RSUD dr Soebandi tidak bisa melakukan klaim pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. 

"Sehingga merugikan RSUD Soebandi Jember, dengan nilai kerugian Rp 355.149.798," katanya.

Pihak penyidik telah mengajukan izin kepada Kajari Jember untuk menahan tersangka selama proses penyidikan. 

"Karena kami takut di sana tersangka menghilangkan barang bukti. Atau melarikan diri. Di samping itu ancamannya memang cukup tinggi," urainya.

Oleh karena itu, tersangka dikenai Pasal 2 dan pasal 3 RI No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU RI No 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI No 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Ancaman bisa seumur hidup, atau minimal 4 tahun dan paling tinggi 20 tahun, serta denda minimal Rp 200 juta hingga Rp 1 Miliar," paparnya. 

Dari hasil keterangan para saksi, kata Nyoman, tersangka melakukan tindakan tersebut seorang diri. Dan melakukan penjualan obat BPJS Kesehatan saat pagi hari, ketika rumah sakit masih sepi. 

"Jadi para saksi itu disuruh ke sana beli obat, dia langsung bayar kepada tersangka. Jadi uangnya tidak masuk di data RSUD dr Soebandi," pungkasnya. 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved