Berita Malang Hari Ini

Keluh Kesah Pedagang Buah Apel di Sentra Buah STT Sati Kota Malang Selama Musim Hujan

PEDAGANG APEL: "Ruginya banyaklah karena sekarang kan musim hujan, jadi sepi pembeli. Ini saya mengambil barangnya dari Alun-alun Batu."

Editor: Yuli A
Septyana Cahyani Eka Saputri
Penjual buah apel di Sentra Buah STT Sati, Kota Malang, Rabu (30/11/2022) siang. 

PEDAGANG APEL: "Ruginya banyaklah karena sekarang kan musim hujan, jadi sepi pembeli. Ini saya mengambil barangnya dari Alun-alun Batu."

Reporter: Septyana Cahyani Eka Saputri

SURYAMALANG.COM, MALANG – Penjual buah apel di Sentra Buah STT Sati tampak sibuk mengatur apel-apel khas Malang yang akan dimasukkan ke dalam tas apel, Rabu (30/11/2022) siang.

Padahal, kala itu tidak ada satupun pembeli yang datang ke lapak dagangan penjual apel.

Jenis apel yang dijual disini adalah Apel Room Beauty dan Apel Manalagi.

Ahmad Nastaim (20), mengaku akhir-akhir ini penjualan mengalami penurunan yang sangat drastis. Penyebabnya adalah musim hujan yang terus mengguyur Kota Malang.

"Ruginya banyaklah karena sekarang kan musim hujan, jadi sepi pembeli. Ini saya mengambil barangnya dari Alun-alun Batu, saya mengambil barang dulu baru bayar. Kalau buah apel itu bertahan 2 minggu," terang Ahmad Nastaim.

Sementara itu Idris (45), mengaku telah berjualan di Sentra Buah STT Sati sejak tahun 1998. Ia juga menceritakan bahwa penjualan buah apel saat ini mengalami penurunan. Penyebabnya adalah musim hujan.

Buah apel yang dijual oleh Idris didapat dari Pasar Besar Kota Batu, dan bisa bertahan selama 20 hari.

"Jika buah tidak laku pada akhirnya akan membusuk, dan kerugian penjualan harus ditanggung sendiri tidak bisa dikembalikan. Saya beli 1 keranjang buah apel seharga Rp 612.500 per 35 kilogram. Kalau tidak terjual saya yang rugi," tutur Idris.

Di sisi lain Aminulloh (30), mengatakan hal yang sama jika penjualan sepi pembeli dikarenakan musim hujan.

"Kalau musim hujan buah apel jadi hambar, jadi akan berpengaruh juga terhadap penjualan. Ini saya mengambil barangnya dari Pasar Besar Kota Batu. Untuk apel yang asli ada di wilayah Nongkojajar," pungkas Aminulloh.

Para penjual apel mengaku bahwa mereka tidak menyewa lapak untuk berjualan, melainkan hanya membayar iuran kebersihan sebesar Rp 10.000 per minggu. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved