Berita Malang Hari Ini

Ulat Jerman dan Ulat Hongkong dari Malang Tembus Pasar Eropa

Fajri Budi Kurniawan (30) mulai budi daya ulat Jerman dan ulat Hongkong sejak tahun 2000. Usahanya terus berkembang.

Editor: Zainuddin
Septyana Cahyani Eka Saputri
Fajri Budi Kurniawan Pengepul Budidaya Ulat Jerman dan Ulat Hongkong di rumahnya , Rabu (30/11/2022), pagi. 

SURYAMALANG.COM, MALANG – Fajri Budi Kurniawan (30) mulai budi daya ulat Jerman dan ulat Hongkong sejak tahun 2000. Usahanya terus berkembang.

Awalnya pria asal Singosari, Kabupaten Malang ini menyetor ke pengepul ulat Jerman dan ulat Hongkong di sekitar rumahnya.

Seiring berjalannya waktu dan melihat target pasar yang semakin bagus, Fajri beralih menjadi pengepul ulat Jerman dan ulat Hongkong.

Pemilik PT Multi Cahaya Dinarto ini mulai menjadi pengepul ulat Jerman dan ulat Hongkong sejak tahun 2005.

"Sekarang saya membina peternak ulat Jerman dan ulat Hongkong yang ingin berwirausaha," ujar Fajri kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (30/11/2022).

Cuaca tidak berpengaruh pada proses budidaya ulat Jerman dan ulat Hongkong, asal sirkulasi udara dalam keadaan baik.

Biasanya ulat Jerman menjadi pakan burung, pakan ikan, dan pakan reptil. Sedangkan, ulat Hongkong menjadi pakan burung.

Fajri mengaku penjualan ulat Jerman ulat Hongkong laris manis di dalam negeri maupun pasar internasional.

"Saya kirim ke Jakarta setiap hari. Kalau di Malang Raya, pembeli datang langsung ke rumah saya. Saya juga kirim ke Singapura, Vietnam, dan Eropa," tuturnya.

Untuk pengiriman ke luar negeri, Fajri harus mengeringkan ulat tersebut, dan dimasukkan ke dalam kemasan.

"Kalau pengiriman ke Jakarta, ulat dalam keadaan hidup," lanjutnya.

Fajri bisa menembus pasar luar negeri bermula dari membuat blog bernama kumbangjermanblogspot.com. Pembaca dari luar negeri merespon positif tulis Fajri di Blogspot tersebut.

"Ternyata hewan di luar negeri juga mengkonsumsi ulat. Ada orang dari luar negeri yang datang langsung ke rumah saya untuk memastikannya. Akhirnya, mereka minta dikirim ulat yang sudah dikeringkan dan dikemas rapi," ungkap Fajri.

Fajri mengambil ulat dari peternak seharga Rp 30 ribu per kilogram (Kg).

Fajri memang membuka peluang usaha bagi orang yang ingin budidaya ulat Jerman dan ulat Hongkong.

“Mereka bisa beli bibit dari saya, dan saya akan menanggung proses panennya. Ulat Hongkong bisa panen seminggu sekali, dan ulat Jerman bisa panen dua minggu sekali,” tutur Fajri.(Septyana Chyani Eka Saputri)

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved