Berita Malang Hari Ini

Polres Malang Ambil Tindakan Diversi untuk Kasus Perundungan Siswa SD di Malang

Polres Malang akan mengambil langkah diversi untuk kasus perundungan siswa SD di Kepanjen.

Editor: Yuli A
Polres Malang Ambil Tindakan Diversi untuk Kasus Perundungan Siswa SD di Malang
ist
ilustrasi

Reporter: Lu'lu'ul Isnainiyah

SURYAMALANG.COM, MALANG - Polres Malang akan mengambil langkah diversi untuk kasus perundungan siswa SD di Kepanjen. Langkah ini diambil karena usia dari korban maupun pelaku masih di bawah umur.


Perlu diketahui, diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.


Menurut Kasatreskrim Polres Malang, Iptu Wahyu Riski Saputro mengatakan, jika langkah diversi ini sesuai dari arahan Bapas Malang dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Malang.


"Hasil koordinasi dengan pihak terkait, agar kasus perundungan ini dilakukan diversi atau mediasi," jelas Riski, Rabu (7/12/2022).


Menurutnya, langkah ini sudah sesuai dengan Undang-undang Sistem Peradilan Anak. Di mana sebelum proses lanjut, harus dilakukan adanya diversi terlebih dahulu.


Hanya saja untuk pelaksanaan diversi, Polres Malang masih menunggu kondisi korban membaik. Terlebih korban sempat menjalani operasi pengangkatan darah beku di otak.


Untuk proses diversi, korban dan juga anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) akan didatangkan beserta dengan keluarganya. Serta wali kelas masing-masing.


"Saat ini penyidik telah melakukan pendekatan kepada masing-masing orang tua, baik korban maupun ABH terkait rencana diversi. Hanya masih menunggu korban pulih," ujarnya.


Selain menunggu korban pulih, Riski juga menyebutkan jika ABH yang berjumlah tujuh anak itu masih mengalami trauma. Bahkan mereka sempat tidak ingin sekolah.


Seperti yang diberitakan sebelumnya, MWF, siswa kelas 2 SD di Kepanjen mengalami perundungan dari ketujuh kakak kelasnya pada Jumat (11/11/2022).


Akibat dari perundungan itu, korban mengalami luka yang cukup parah hingga koma.


Dari pemeriksaan dokter, terdapat gumpalan darah di otak korban yang harus dioperasi. Hingga saat ini korban masih menjalani perawatan.


Bahkan, korban mengaku trauma dan tidak ingin sekolah kembali.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved