TRAGEDI AREMA VS PERSEBAYA

Saat Tragedi Kanjuruhan, Ibu Cari Anak Terobos Kepulan Asap hingga Loncati Got

Ia bersikeras jika kematian sang anak bukan karena injakan dari penonton lain. Jika dilihat dari kondisi tubuh anaknya menghitam.

Editor: Yuli A
Lu'lu'ul Isnainiyah
Cholifatul Nur saat bercerita mencari anaknya yang tewas di Tragedi Kanjuruhan, Rabu (7/12/2022) 

Reporter: Lu'lu'ul Isnainiyah

SURYAMALANG.COM, MALANG - Air mata Cholifatul Nur tak  terbendung lagi saat menceritakan kesaksian dirinya berada di Tragedi Kanjuruhan pada, 1 Oktober 2022.


Bagaimana tidak, selain mengingat kejadian yang mencekam itu, ia juga mengingat anak semata wayangnya Jofan Farelino yang tewas dalam kejadian itu.


Perempuan yang biasa dipanggil Ifa itu bercerita bagaimana awal kali dirinya berada di stadion Kanjuruhan.


"Saat itu saya tidak nonton, saya dikabari sama teman, kalau anak saya pingsan di stadion Kanjuruhan. Saya langsung bergegas ke sana," terang Ifa.


Tanpa berpikir panjang, Ifa yang saat itu masih mengenakan pakaian tidur langsung menuju ke Stadion Kanjuruhan mengendarai sepeda motor.


Setibanya di parkiran, Ifa melihat kepulan asap tebal di sekitar stadion, di mana ia menduga jika asap tersebut berasal dari gas air mata.


Mengabaikan gas air mata, Ifa langsung bergegas masuk untuk mencari putranya tersebut. 


Dia mengingat bagaimana suasana mencekam saat itu. Ia mendengar suara tembakan yang terus menerus berbunyi di dalam Stadion Kanjuruhan.


"Saya menerobos masuk, saya gak lewat jalan utama masuk Stadion Kanjuruhan, tapi saya langsung loncat lewat got, saat itu asap ada di mana-mana," ujar perempuan yang mengenakan kerudung hitam.


Di dalam stadion, Ifa meminta bantuan ke seseorang yang tidak ia ketahui. Ia meminta untuk diantarkan ke gate 7, di mana anaknya berada.


Ketika sampai di gate 7, Ifa tidak menemui anaknya. Ia mendapatkan informasi jika sang anak berada di ruang VIP, karena dalam keadaan sudah meninggal dunia.


Perjuangan Ifa tak berhenti di situ, ia pun kembali mencari bantuan dengan harapan anaknya bisa dilarikan ke rumah sakit terdekat.


"Akhirnya saya minta tolong ke TNI untuk bawa anak ke rumah sakit, saya mau memastikan anak ini benar-benar sudah tidak ada tau bagaimana," jelasnya dengan menyeka air mata yang mulai jatuh di pipi.


Ketika ia sudah memastikan sang anak telah tiada, Ifa pun membawa anaknya pulang ke rumah sekitar pukul 01.00 WIB.


Ia bersikeras jika kematian sang anak bukan karena injakan dari penonton lain. Jika dilihat dari kondisi tubuh anaknya menghitam.


Selain itu, ia melihat jika ada busa keluar dari mulut anaknya.


"Waktu dimandikan mulutnya keluar darah, telinganya keluar darah. Kukunya menghitam, kulitnya hitam. Bahkan matanya pas saya buka itu merah sekali, putihnya tidak ada," ucapnya dengan isak tangis.


Dengan adanya kejadian ini, Ifa berharap semua orang yang terlibat di Tragedi Kanjuruhan bisa segera diadili.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved