Berita Malang Hari Ini

Tak Ada Jalur Evakuasi Diduga Jadi Penyebab 135 Orang Tewas dalam Tragedi Kanjuruhan

Tidak adanya jalur evakuasi di Stadion Kanjuruhan diduga menjadi penyebab 135 orang tewas dalam tragedi Kanjuruhan.

Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Habibur Rohman
Suasana sidang kasus 'Tragedi Kanjuruhan Malang' pada hari kedua di Ruang Cakra Pengadilan Negeri Surabaya Kelas 1A Khusus, Kamis (19/1/2023). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Tidak adanya jalur evakuasi di Stadion Kanjuruhan diduga menjadi penyebab 135 orang tewas dalam tragedi Kanjuruhan.

Hal itu diungkapkan anggota Polsek Pakis, Bripka Eka Narariya saat menjadi saksi sidang tragedi Kanjuruhan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (19/1/2023).

Eka menjadi saksi untuk terdakwa Suko Sutrisno selaku Security Officer saat pertandingan Arema FC vs Persebaya.

Eka mengatakan pintu besar Stadion Kanjuruhan tidak pernah dibuka saat ada laga.

"Selama 14 tahun, saya sering ditugaskan menjaga keamanan saat ada pertandingan bola di Stadion Kanjuruhan. Setahu saya, pintu besar stadion tidak pernah dibuka kalau ada pertandingan," ujar Eka.

Tidak adanya jalur khusus evakuasi inilah yang diduga menjadi pemicu 135 nyawa orang tewas dalam tragedi Kanjuruhan.

Tembakan gas air mata membuat semua orang panik, lalu berebut keluar dari pintu-pintu tribune.

Akhirnya banyak orang yang kehabisan oksigen karena berjubel mencari jalan evakuasi.

"Selama saya dilibatkan menjaga keamanan, laga memang paling banyak didatangi Aremania," terangnya.

Setelah pertandingan yang berakhir dengan kekalahan Singo Edan tersebut, ada satu Aremania yang turun ke lapangan (pitch invader). Tak lama kemudian sejumlah suporter dari beberapa tribune ikut turun ke lapangan.

Polisi mencoba mengusir suporter dari lapangan. Saat suasana kacau, korban tragedi Kanjuruhan, Estu Aju Kuncoro mendengar suara ledakan, dan ada kepulan asap di tribune 13.

Estu segera keluar melalui pintu utama. Estu menilai pintu tersebut lebih longgar daripada pintu lain.

"Saat itu pintu hanya terbuka sedikit. Mungkin hanya empat orang yang bisa lewat secara bersamaan," kata Estu.

Setelah keluar dari Stadion Kanjuruhan, Estu muntah-muntah. Kemudian Estu membeli air mineral di warung.

"Dari gejala ini, saya masuk RS Hasta Brata, dan rawat inap selama tiga hari dua malam," ujarnya.

Aremania, Ahmad Syaifuddin mengaku saat itu menonton laga di tribune 14. Menurutnya, suara ledakan terdengar dari luar stadion.

"Saat ada suara tembakan, lalu timbul asap di tribune utara, saya keluar. Saya mendengar suara tembakan dari depan lobi. Asap mengarah di depan saya," kata Syaifuddin.

Setelah itu situasi di luar stadion panik. Ambulans seliweran. Syaifuddin segera mencari warung untuk berlindung.

"Saya lari terasa sesak nafas, dan badan lemas," terangnya.(Tony)

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved