Berita Arema Hari Ini

3 Alasan Arema FC Terancam Dibubarkan dan Selama Ini Pilih Bertahan, Tuntutan Arek Malang Terwujud?

Tuntutan Arek Malang terwujud? ini 3 alasan Arema FC terancam dibubarkan dan selama ini pilih bertahan.

Penulis: Sarah Elnyora | Editor: Dyan Rekohadi
Instagram @aremafcofficial
Tatang, Adilson Maringa (kiri), Abel Camara (kanan). 3 Alasan Arema FC terancam dibubarkan dan selama ini pilih bertahan, tuntutan Arek Malang terwujud? 

SURYAMALANG.COM, - Buntut Tragedi Kanjuruhan membuat Arema FC terancam dibubarkan setelah mengarungi "drama" panjang. 

Arema FC yang memilih bertahan dan tetap melanjutkan kompetisi Liga 1 2022 pada akhirnya dipaksa menyerah oleh keadaan. 

Manajemen Arema FC mulai mempertimbangkan pilihan membubar klub setelah banyaknya tragedi yang terjadi. 

Tentu saja tragedi paling besar adalah Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022, disusul teror di dalam bus, lalu perusakan kantor Arema FC

Bukan cuma itu, Arema FC yang terusir dari kandangnya, ditolak main dimana-mana tanpa punya homebase. 

Sederet porotes dan cibiran juga tak berhenti memenuhi media sosial Arema FC baik di Instagram atau Twitter. 

Kondisi itu membuat Arema FC tak mampu mempertahankan tren positif di setiap laga dan akhirnya 4 kali kalah beruntun. 

Lalu apa alasan Arema FC selama ini bertahan meski digempur masalah dan kini mempertimbangkan untuk bubar?

  • Pertimbangan Untuk Bubar

1. Situasi yang Tidak Kondusif 

Pertimbangan untuk membubarkan klub terjadi setelah kantor Arema FC jadi sasaran amuk massa pada Minggu (29/1/2023).

Dalam aksi demo yang dilakukan oleh ratusan kelompok bernama "Arek Malang" itu terjadi kerusuhan dan kekerasan. 

Akibatnya, enam orang terluka dalam peristiwa bentrok antara massa dan petugas kantor Arema FC

Puncak dari situasi itu, Arema FC merasa kondisi semakin tidak kondusif. 

Hal itu seperti diungkap Komisaris PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia ( PT AABBI) Tatang Dwi Arfianto

"Kami manajemen akan mempertimbangkan agar klub Arema FC untuk dibubarkan," ucap Tatang , Senin (30/1/2023).

2. Belum Bisa Memuaskan Banyak Pihak 

Tatang mengatakan, Arema FC telah melakukan berbagai macam upaya pasca Tragedi Kanjuruhan.

Mulai membuka crisis center membantu penanganan korban, memberikan layanan trauma healing, dan menghadapi proses serta gugatan hukum baik pidana dan perdata.

Serta menjaga eksistensi klub agar tetap menjalani kompetisi meski dengan berbagai sanksi dan denda dari federasi.

Akan tetapi jika semua itu belum bisa memuaskan banyak pihak, maka Arema FC mempertimbangkan untuk mundur. 

"Jika memang upaya dan itikad Arema FC ini dianggap belum memenuhi keinginan banyak pihak, atau justru membuat tidak kondusif" ujar Tatang. 

"Jika dirasa Arema FC ini mengganggu kondusivitas"

"Tentu ada pertimbangan tersendiri terkait eksistensinya atau seperti apa tapi kami tetap menyerahkan kepada banyak pihak," tandasnya.

3. Tak Sebanding dengan Duka

Terlepas dari aspek-aspek teknis, Tatang mengatakan, Arema FC sangat memahami suasana duka yang berkepanjangan pasca Tragedi Kanjuruhan.

Duka itu menjadi alasan lain dari semua pertimbangan untuk membubarkan Arema FC.

Sejauh ini klub berjuluk Singo Edan itu juga terus berusaha dan berupaya agar situasi ini kembali normal.

Maka dari itu, jajaran direksi dan manajemen Arema FC sudah berkumpul.

Mereka akan membicarakan langkah berikutnya seperti apa terkait situasi yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini.

Termasuk untuk mempertimbangkan Arema FC bubar.

  • Lalu Apa Alasan Arema FC Memilih Bertahan?

Dalam pernyataannya, Tatang mengaku Arema FC mempertimbangkan nasib masyarakat Malang tanpa sepak bola. 

Terutama para pengusaha kecil yang hidupnya bergantung dari olahraga yang punya banyak massa tersebut. 

"Sebelumnya kami memikirkan banyak masyarakat Malang yang hidup dari sepak bola utamanya Arema FC, seperti UMKM, pedagang kaki lima sampai usaha kecil lainnya." kata Tatang. 

Kendati begitu, Tatang mengungkap yang dialami Arema FC atas insiden ini tetap tidak sebanding dengan rasa duka yang dialami Aremania saat peristiwa Kanjuruhan.

Seperti diketahui, Tragedi Kanjuruhan pecah selepas Arema FC dikalahkan Persebaya Surabaya 2-3.

Pada tragedi itu, tercatat 135 orang meninggal dunia.

Kemudian tragedi baru terjadi dengan rusaknya Arema FC Store yang berada di samping kantor Arema FC

Akibatnya, Arema FC Store mengalami kerusakan yang cukup parah.

Dalam rilis yang disebar, Arek Malang menulis demo tersebut untuk mengingatkan manajemen Arema FC agar turut bertanggung jawab atas tragedi Kanjuruhan.

Arek Malang menuntut Arema FC mundur dari kompetisi Liga 1, dan ikut berpartisipasi aktif dalam upaya usut tuntas tragedi Kanjuruhan.

Arek Malang juga menolak segala aktivitas PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (PT AABBI) di Malang Raya.

"Kami berusaha mengingatkan AREMA FC kembali dengan mengirim surat terbuka melalui email maupun secara langsung"

"Tapi, sampai hari ini belum ada iktikad baik dari PT AABBI untuk merespon tuntutan dari Arek Malang," tulis Arek Malang Bersikap.

Update berita terbaru di Google News SURYAMALANG.com 

(Rifky Edgar)

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved