Berita Malang Hari Ini
Penyakit Parasit Masih Jadi Tantangan Dunia Kedokteran
Departemen Keilmuan Parasitologi Klinik dan Departemen Kedokteran, Fakultas Kedokteran UB, menggelar Inagural Lecture In Parasitology
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: rahadian bagus priambodo
SURYAMALANG.COM | MALANG - Penyakit parasit masih merupakan tantangan bagi dunia Kedokteran, terutama di negara tropis, termasuk Indonesia.
Oleh sebab itu, Departemen Keilmuan Parasitologi Klinik dan Departemen Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB), menggelar Inagural Lecture In Parasitology, pada Senin (30/1/2023).
Kegiatan itu bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Parasitologi Klinik Indonesia (PDS PARKI) dan Perhimpunan Pemberantasan Penyakit Parasitik Indonesia (P4I).
Tema yang diangkat adalah "Unique Cases In Parasitic Diseases and Controversies of Immunological Diagnostic In Clinical Studies".
Ketua pelaksana yang juga merupakan ketua Departemen Keilmuan Parasitologi Klinik FKUB dr Agustin Iskandar SpPK(k) menyatakan saat ini terdapat penurunan kasus dan trend eliminasi yang positif bagi infeksi malaria dan filariasis di Indonesia.
"Hal ini didukung oleh perbaikan alur dan modalitas yang dapat menunjukkan data yang lebih valid untuk mengkonfirmasi kasus infeksi parasit," jelas dia dalam rilis pada suryamalang.com, Selasa (31/1/2023).
Selain kasus malaria dan filariasis, banyak kasus infeksi parasit lain yang belum dilaporkan secara lengkap oleh Kemenkes.
Seperti kasus taeniasis ascariasis dan beberapa neglected tropical diseases (NTDs) lainnya. Ia menambahkan bahwa pengetahuan mengenai kasus-kasus klinis terkait infeksi parasit sangat diperlukan untuk menunjang diagnosis dan penanganan yang cepat dan tepat.
Komponen yang dapat mendukung hal ini adalah metode diagnostik yang akurat.
Karena itu diperlukan pengembangan uji diagnostik lanjut yang bertujuan untuk mengubah atau menunjang metode pemeriksaan konvensional. Sehingga dapat meningkatkan akurasi dan efisiensi deteksi penyakit parasitik.
Dikatakan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pendekatan biologi molekuler dan imunologis (immunodiagnosis) merupakan metode yang banyak digunakan untuk diagnosis penyakit parasitik. Metode tersebut diketahui memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi untuk mendeteksi infeksi parasit.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka diperlukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan terkait kasus-kasus unik di bidang parasitologi dan kontroversi hasil diagnosis imunologis dalam studi klinis. Terutama bagi mahasiswa, baik pada tahap preklinis, profesi, Pendidikan spesialis, maupun pascasarjana, serta dosen, analis, dan civitas akademika di lingkungan FKUB.
Kegiatan inaugural lecture ini, mengundang dua orang pakar di bidang Parasitologi Klinik sebagai pembicara yakni Prof Dr drTeguh Wahju Sardjono DTM&H MSc SpParK dan Dr dr Sri Poeranto MKes SpParK yang memiliki kiprah dan pengalaman selama lebih dari 30 tahun di bidang ini.
Data Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI, sebanyak 42.8 persen penyebab kematian pada kelompok balita (12–59 bulan) pada 2020 disebabkan oleh infeksi parasit.
Penyakit parasitik yang ditemukan di Indonesia terdiri dari kecacingan (cacing gelang, tambang, kremi, filaria, dan beberapa jenis cacing pita) dan infeksi protozoa (malaria, toksoplasma, dan protozoa usus).
Meski gejala beberapa infeksi tidak berat dan kurang spesifik, infeksi kronis dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang, anemia, dan penurunan produktivitas.
Ketidakfamilieran terhadap kasus-kasus tersebut memiliki potensi untuk menimbulkan kesalahan diagnosis yang berujung pada penanganan yang kurang efektif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Peserta-yang-mengikuti-Inagural-Lecture-In-Parasitology.jpg)