Berita Malang Hari Ini
Kuliah Tamu Pius Lustrianang dan Bedah Buku Aldera di Universitas Brawijaya
Dr Pius Lustrianang MSi, anggota keenam BPK RI yang dulu dikenal sebagai aktivis memberi kuliah tamu dan bedah buku di UB
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: rahadian bagus priambodo
SURYAMALANG.COM|MALANG-Dr Pius Lustrianang MSi, anggota keenam BPK RI yang dulu dikenal sebagai aktivis memberi kuliah tamu dan bedah buku "Aldera: Potret Pergerakan Politik Kaum Muda 1993-1999" di ruang Algoritma Filkom Universitas Brawijaya (UB), Senin (10/4/2023). Kegiatan itu dihadiri ratusan mahasiswa dan pejabat UB. Rektor UB Prof Widodo memberikan sambutan pada Pius yang merupakan alumni S3 FIA UB. Aldera adalah Aliansi Demokrasi Rakyat.
"Hari ini spesial karena ada bedah buku Aldera, gerakan mahasiswa tahun 90an. Saat itu saya masih mahasiswa sebagai aktifis pers mahasiswa yang menyuarakan demokrasi dan kerakyatan," kata Rektor saat memberi sambutan. Ia menjelasan jika saat itu isu demokrasi dan rakyat agak tabu. Lewat asosiasi itulah, kaum muda dan anak muda untuk mencari peluang pembaruan Indonesia.
Maka anak muda saat ini harus menanamkan jiwa untuk mencari peluang dan menjadi bagian dari perubahan di Indonesia yang lebih baik. "Sudah saatnya adik-adik mengangkat isu-isu nasional dan global di permukaan bumi. Jika aktif membaca buku, perubahan dimulai oleh anak muda meski tidak selalu pada kegiatan demonstrasi," kata Widodo. Pius di acara itu sebagai keynote speaker kuliah tamu.
"Aldera adalah organ gerakan yang dibuat anak muda di kantong-kantong gerakan mahasiswa seperti dari Jakarta, Bogor dan lain-lain. Aldera berperan penting dalam demokrasi Indonesia," katanya dalam pengantar. Dulu tidak ada alat komunikasi dan harus bertemu. Beda dengan generasi informasi sekarang sudah lebih mudah karena ada medsos.
Dibanding PRD, gerakan aldera lebih kurang pemberitaan. Sehingga ia berpikir mereka yang terlibat di aldera harus menulis dan akhirnya jadi buku. Intinya bahwa ada anak muda yang saat itu fokus menggerakkan demokrasi. "Buku ini bercerita tentang aktifitas mahasiswa. Sejarah mencatat bahwa selalu ada peran pemuda disana. Saya juga bingung kenapa dulu semilitan itu," kata Pius.
Ayahnya seorang profesor dan ia ingin jadi profesor juga kelak. Ia mengatakan kenal politik karena diracuni mahasiswa UGM. Saat SMA di Jogja, ia mengambil kursus bahasa Prancis dan mengenal mahasiswa itu. Ia diberi buku bacaan yang mengena jiwanya. Sejak kecil ia tidak suka ketidakadilan. Pada masanya itu ia jadi aktifis yang militan.
"Saya berulang kali ditangkap dan diculik," katanya. Dalam kegiatan itu ia memberi hadiah bagi yang bisa menjawab pertanyaan tentang isi bukunya. Bahkan ada mahasiswa yang mendapat HP karena bisa menjawab tentang satu mobil yang menunggunya di depan kantor Komnas Ham. Buku Aldeea sudah terjual 100.000 eksemplar selama dua bulan.
Dr Suryadi, dosen FIA UB dalam bedah buku menyebutkan Pius adalah saksi sejarah, pelaku sejarah dan penulis sejarah. "Tanpa perintahnya, buku ini tidak terbit. Saya mencari pesan yang abadi dan kekal dari buku ini agar jadi inspirasi dari mutiara hikmahnya," kata Suryadi. Bahwa aldera adalah perjuangan untuk menegakkan demokrasi. Sampai ia bilang rela mati demi demokrasi.
"Pertanyaannya, mengapa demokrasi diperjuangkan sampai kematian? Karena demokrasi adalah fitrah kemanusiaaj yaitu free will. Sampai kapanpun akan muncul gerakan-gerakan jika demokrasi tidak eksis," katanya. Sedang Wawan Sobari PhD, dosen Ilmu Politik Fisip UB mengatakan mengalami era saat itu. Dimana ia jadi mahasiswa pada 1993. "Bagaimana mengkaitkan era itu dengan sekarang? Saya generasi terakhir X. Sekarang mayoritas peserta ini adalah generasi Z," kata Wawan.
Ia menyebutkan ada tantangan milenial dalam konteks demokrasi saat ini, yaitu karakter milenial sata ini PD tapi beda ideliasme. Tantangan kedua adalah demokrasi itu sendiri. "Indikator demokrasi bukan atas nama rakyat karena yang menggerakan atas nama negara bukan rakyat. Maka perlu dipikirkan ulang karena state centre," papar dia.
Tantangan ketiga adalah oligarki. Seringkali narasi dijadikan mendukung demokrasi. Tapi jika tidak kritis malah terjebak. Value di aldera itu adalah kecintaan pada negara yang bisa diwujudkan dalam hal beda saat ini. Aktifitas milenial perlu creative thinking dan design thinking. Misalkan menyelesaikan kemiskinan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Dr-Pius-Lustrianang-MSi-anggota-keenam-BPK-RI.jpg)