Minggu, 26 April 2026

Permintaan Pembiayaan UMKM Masih Terpusat di Jawa dan Bali

Permintaan pembiayaan dari sektor UMKM masih terpusat di Jawa dan Bali.

Editor: Zainuddin
KONTAN/Muradi
Ketua Bidang Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Andi Taufan Garuda Putra 

SURYAMALANG.COM, JAKARTA - Permintaan pembiayaan dari sektor UMKM masih terpusat di Jawa dan Bali. Sebaliknya, wilayah Indonesia Timur masih belum maksimal tersentuh.

Ketua Bidang Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Andi Taufan Garuda Putra mengatakan sesuai riset AFPI dan Erns & Young (EY), sekitar 62 persen permintaan pembiayaan UMKM masih terpusat di Jawa dan Bali pada 2022.

"Angka tersebut akan menjadi 61 persen pada 2026," ucap Andi, Jumat (14/7).

Andi menerangkan total supply pembiayaan UMKM pada 2022 mencapai Rp 1,4 triliun. Diprediksi pembiayaan UMKM akan terus meningkat menjadi Rp 1,9 triliun pada 2026.

Andi Taufan menambahkan segmen dengan pertumbuhan tertinggi ada di Indonesia Timur dengan skala Ultra Mikro dan Mikro yang memiliki laju pertumbuhan CAGR 23,1 persen antara 2022-2026.

Andi memperkirakan permintaan pembiayaan dari Indonesia Timur mencapai Rp 250 triliun pada 2026, yang mana 24 persen atau sekitar Rp 60 triliun berasal dari kelompok bisnis prospektif.

"Namun, sampai saat ini akses pendanaan masih terbatas di daerah tersebut. Sedangkan usaha skala besar yang masih belum matang atau segmen bisnis konvensional bertahan masih mendominasi permintaan pembiayaan di Kalimantan," terang CEO & Founder Amartha tersebut.

Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bambang Budiawan mengungkapkan UMKM menjadi sektor yang penting untuk terus didukung oleh industri fintech.

Menurutnya, UMKM terus bertindak sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia berkat kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sekitar 62 persen dan penyerapan tenaga kerja mencapai 97 persen di Indonesia.

"Jumlah UMKM yang terus berkembang setiap tahun masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk dalam mendapatkan akses ke fasilitas pembiayaan," kata Bambang.

OJK mencatat kinerja outstanding pembiayaan fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) pada Mei 2023 sebesar Rp 51,46 triliun, atau tumbuh sebesar 28,11 persen Year on Year (YoY).

Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, Aman Santosa mengatakan sebesar 38,39 persen merupakan pembiayaan kepada pelaku UMKM.

"Adapun penyaluran kepada UMKM perseorangan dan badan usaha masing-masing sebesar Rp 15,63 triliun dan Rp 4,13 triliun," ucap Aman, Senin (10/7).

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved