Senin, 18 Mei 2026

Berita Malang Hari Ini

Melihat Pabrik Kerupuk Rambak Sapi di Talangagung, Malang, Pemasok Pasar Yogya dan Jakarta

Awalnya ikut orang, terus belajar tahu caranya buat sendiri. Akhirnya saya buka sendiri di rumah, sekarang berjalan satu tahun.

Tayang:
Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Yuli A
Lu'lu'ul Isnainiyah
Proses produksi kerupuk rambak milik Asep di Desa Talangagung, Kecamatan Kepanjen, Malang 

SURYAMALANG.COM, MALANG -Aseptianto, pembuat kerupuk rambak di Desa Talangagung Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang selama enam tahun lamanya menekuni pembuatan kerupuk rambak atau kerupuk kulit sapi.


Pada Kamis (27/7/2023) siang, terlihat lembaran kulit sapi mentah berjajar di teras rumah Asep untuk dijemur. 


Kulit sapi yang dijemur itu, merupakan pengeringan kulit sapi yang sudah dibersihkan dan direbus. 


"Pertama kan beli kulit sapi dari jagal masih berbulu, kemudian kita rebus hilangkan bulu dan daging yang masih menempel di kulit. Habis itu direbus lalu dipotong kemudian di jemur sampai kering," kata pria yang biasa disapa Asep tersebut. 


Setelah melalui proses pengeringan selama kurang lebih tiga hari, kerupuk langsung dipotong sesuai dengan ukuran. 


Selanjutnya, kerupuk tersebut masuk dalam proses perendaman minyak panas, atau biasa disebut proses pelapukan. 


Proses perendaman ke minyak panas ini memerlukan waktu kurang lebih enam sampai delapan jam. Hingga, akhirnya kerupuk siap untuk dipacking. 


"Setelah pelapukan, kerupuk kita kemas ke dalam plastik lalu kita ke kirim sesuai permintaan," paparnya.


Pria yang memiliki nama lengkap Aseptianto Hadi Yuono ini, mengaku baru membuka usaha produksi kerupuk rambak satu tahun berjalan.


Namun, sebelumnya ia pernah bekerja di tempat pembuatan kerupuk ini selama 5 tahun. 


"Awalnya ikut orang, terus belajar tahu caranya buat sendiri. Akhirnya saya buka sendiri di rumah, sekarang berjalan satu tahun," katanya.


Kini, Asep sudah mulai memproduksi kerupuk rambak hingga menjualnya sendiri dengan enam karyawan yang bekerja dengannya. 


Bahkan, ia rutin mengirim kerupuk mentah siap goreng ke wilayah Jogjakarta hingga ke Jakarta, dan beberapa daerah di Malang. Sasarannya adalah penjual gudeg dan penjual kerupuk rambak matang.


Di mana, setiap kali kirim sebanyak lima kuintal kerupuk rambak yang ia jual. Bahkan dalam waktu satu minggu ia dapat mengirim sebanyak 3 kali. 


Dari penjualan kerupuk kulit ini, ia mampu meraup pundi-pundi rupiah hingga puluhan juta rupiah. 


"Sekali kirim bisa 5 kuintal, tergantung permintaan. Kalau pendapatan sekali mengirim bisa mencapai Rp40 juta, itu untuk kerupuk kulit sapi jantan," katanya.


Pendapatan yang diterima oleh Asep tersebut merupakan pendapatan kotor. Di mana, ia harus mengeluarkan uang sebanyak Rp2 juta hingga Rp5 juta untuk membeli kulit mentah. Kulit tersebut ia dapatkan dari jagal sapi.


Namun, Asep kini mengalami kesulitan untuk mendapatkan kulit sapi mentah di tengah membludaknya permintaan pasar. Karena, ia harus bersaing dengan pengerajin kulit. 


"Pas suroan ini permintaan banyak, taoi bahannya agak sulit. Soalnya banyak pesain dari pengerajin kulit," jelasnya. 


Akibat sulitnya mendapatkan bahan baku, sehingga Asep harus mencari solusi untuk bisa terus memproduksi kerupuk. Yakni, ia akan mencari kulit sapi hingga ke luar Kabupaten Malang, di antaranya di wilayah Blitar.


Selain mencari bahan baku ke luar daerah, pria berusia 36 tahun itu juga akan bermain di harga.


"Kalau beli pas rebutan gini, harus pintar-pintarnya main harga. Biar dapat kulitnya, soalnya permintaan lagi tinggi-tingginya," seru Asep.


Meskipun kesulitan mendapatkan kulit mentah, Asep masih tetap terus berjuang untuk memenuhi permintaan kerupuk rambak mentah kepada pembeli.(isn)

 

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved