Berita Malang Hari Ini

Mahasiswa Program UM Super Batch 1 Semangat Promosikan Usaha Orangtua

Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang ikut program UM Super (Student Parent Entrepreneur) batch 1 semangat mempromosikan usaha orangtuanya

Editor: rahadian bagus priambodo
suryamalang.com/sylvi
Afifah Anggita Yasmin (nomer 2 dari kanan), mahasiswa prodi S1 PG PAUD FIP Universitas Negeri Malang (UM) adalah peserta UM Super Batch I. Ia membantu mengembangkan usaha orangtuanya di produksi keripik talas di Turen, Kabupaten Malang. 

SURYAMALANG.COM-MALANG- Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang ikut program UM Student Parent Entrepreneur (Super) batch 1 semangat mempromosikan usaha orangtuanya. Hal ini sebagai upaya agar usaha orangtua jadi lestari. Program ini diinisiasi Rektor UM Prof Dr Hariyono MPd karena ada banyak keluhan mahasiswa kesulitan membayar biaya kuliah. 

Kemudian UM melakukan pendataan orangtua yang memiliki usaha dan anaknya mendapatkan pembinaan agar juga ikut mengembangkan usaha orangtuanya. Beberapa mahasiswa program ini diikutkan berjualan saat ada event di UM. Seperti usaha cilok dan pentol kuah pedas milik orangtua Diana Galuh Septianasari, mahasiswa semester 5 di prodi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UM. 

"Anak saya bisa membantu memasarkan dagangan saya. Dampaknya terasa, terutama dari promosinya. Sehingga lebih dikenali masyarakat," aku Bu Rina, ibu Diana pada suryamalang.com, Jumat (8/9/2023).

Saat ada job fair IKA UM selama dua hari (7-8/9/2023) di Graha Cakrawala, ia mendapat tempat jualan. Dengan membantu usaha orangtua, ia merasa sudah senang. 

Menurut Diana, orangtuanya berjualan di teras rumahnya dengan nama Teras Ngemile. Usaha ini sudah berdiri sejak 10 tahun lalu di JL Simpang Piranha Atas Malang. Selain berjualan itu juga ada jajanan corndog, tahu bakso dan es lilin dari buah asli. 

"Memang orangtua berjualan di depan teras rumah. Selama ikut UM Batch I, kami diberi pembinaan untuk materi bagaimana meningkatkan mempromosikan usaha orangtua melalui media sosial. Saya melakukan lewat wa dan IG. Jadi untuk yang ingin beli, bisa tahu juga dari media sosial," jelas mahasiswa ini. Selain itu, jika ada event-event di UM juga dikabari dari Kemahasiswaan UM untuk mengisi stand bazar.

Dengan membantu orangtuanya, ia melihat mereka makin giat produksinya. "Jadi kalau dilibatkan di acara-acara juga antusias jualan," jawab dia. Untuk kegiatan selama di job fair, diproduksi 10 kg cilok selama dua hari. "Biasanya sehari bikin 2 kg. Kelebihannya cilok orangtua saya adalah daging sapi asli dan daging ayam. Rasanya, sudah saya minta jangan diubah-diubah agar tetap seperti ini saja resepnya," pungkasnya.

Sedang Afifah Anggita Yasmin, mahasiswa prodi S1 PG PAUD FIP UM juga dari batch 1. Ia membantu usaha orangtuanya di produksi keripik talas di Turen, Kabupaten Malang. "Biasanya kan anak muda malu menjual dagangan orangtuanya. Saya sekarang tidak. Saya bangga karena banyak juga yang seperti saya," kata Afifah.

Putri pasangan Suryono dan Nunuk Astipuri mengatakan selama ikut program mendapat berbagai materi hingga survei usaha. Ia dan orangtuanya mengembangkan usaha keripik talas dengan merek D'Aiffa. Ini gabungan namanya dan kakaknya. Awal usaha orangtuanya di bidang makanan karena mencari kesibukan usai pensiun. Awalnya bikin mie, warung nasi goreng, ikan bakar. Tapi yang berjalan terus ternyata keripik talas dan bisa dijual ke toko oleh-oleh. 

"Jadi tidak menunggui orang beli. Apalagi orangtua saya sudah sepuh," jawab dia. Rencana ia akan mengembangkan jenis keripiknya seperti dari bahan singkong, kentang dan lainnya. Sekarang masih fokus di keripik talas. "Saya dan orangtua membuat sendiri. Satu minggu bisa bikin 50 kg keripik talas," jawab dia. Untuk bahan baku talas ada pemasoknya. Tapi tidak pada satu orang.

"Kalau ada dibeli saja karena khawatir kekurangan stok bahan baku," jawabnya. Dari ikut program UM Super, ia bisa membantu marketing usaha orangtua, tampilan produk dan bisa ia terapkan di usahanya. UM Super II kini sedang berjalan. "Namanya pengusaha itu bukan warisan biologis. Tapi ini adalah proses warisan sosial yang harus kita pelajari," jelas Rektor UM. Sylvianita Widyawati

Sumber: SuryaMalang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved