Berita Batu Hari Ini

Dukung Indonesia Menuju Nol Emisi, PT Bina Pertiwi Tanam Ribuan Bibit Pohon Alpukat Aligator

Penanaman ini juga bertujuan untuk melakukan antisipasi perubahan iklim, termasuk target zero emisi di Indonesia tahun 2060.

Penulis: Dya Ayu | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/ISTIMEWA
PT Bina Pertiwi saat menanam bibit pohon alpukat aligator di Petak 75B Perhutani KPH Malang, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Selasa (5/11/2024). 

SURYAMALANG.COM, BATU - Sebanyak 2.448 bibit pohon alpukat aligator ditanam PT Bina Pertiwi melalui program CSRnya bersama Perhutani, Pemkot Batu dan Pemerintah Desa Giripurno di Petak 75B Perhutani KPH Malang, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Selasa (5/11/2024).

Kegiatan itu dilakukan sebagai wujud penyelamatan terhadap lingkungan khususnya kawasan hutan, terlebih di Kota Batu pernah dilanda bencana alam banjir bandang Tahun 2021 lalu.

“Ini merupakan langkah nyata kami dalam upaya penghijauan dan mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar. Penanaman alpukat aligator dengan jumlah 2.448 juga ada artinya, 24 berarti tahun 2024 dan 48-nya berarti usia Bina Pertiwi ke 48 Tahun,” kata Presiden Direktur Bina Pertiwi, Mahmudi, Selasa (5/11/2024).

Terkait alasan dipilihnya lokasi lereng Gunung Arjuno lantaran sebelumnya Bina Pertiwi yang merupakan anak perusahaan United Tractor (UT) telah bekerja sama dengan Perhutani KPH Malang untuk melakukan penghijauan kembali atau reboisasi.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari program Environmental, Social and Governance (ESG) yang dijalankan Bina Pertiwi. Harapannya kami dapat berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan, menambah tutupan hijau di area lereng gunung dan mendukung perekonomian masyarakat setempat melalui hasil perkebunan yang potensial,” ujarnya.

Penanaman ini juga bertujuan untuk melakukan antisipasi perubahan iklim, termasuk target zero emisi di Indonesia tahun 2060.

“Ini merupakan bagian dari upaya kami untuk bersama-sama berkontribusi mewujudkan target tersebut,” jelasnya.

Seperti diketahui, dari hasil perhitungan pohon alpukat mampu mengolah 25 kilogram CO2 ekuivalen.

Kemudian jika dikonversi sebanyak 2.448 pohon alpukat, maka bisa mengkonversi 61,2 juta ekuivalen CO2.

“Kami melihat perubahan iklim hutan banyak terjadi, karena sekarang hutan banyak dirambah manusia, dimana mereka merambah hutan karena faktor ekonomi. Karena itu, kami bersama LMDH setempat melakukan hal ini, agar kepentingan lingkungan dan kepentingan masyarakat terpenuhi,” terangnya.

Selain hal itu secara produksi alpukat aligator juga menjanjikan dari segi ekonomi apabila dijual, karena satu bijinya dapat menghasilkan berat mencapai 0,8 kilogram-1,5 kilogram.

“Jika harga 1 kilogram alpukat Rp 10 ribu, dikalikan 100 kilogram maka satu pohon sudah menghasilkan Rp 1 juta dan dari Rp 1 juta tersebut jika dikalikan lagi 2.448 pohon maka perputaran uang bisa tembus Rp2,5 miliar per tahun,” tuturnya.

“Melalui program ini, kami berharap dapat menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk turut serta dalam upaya pelestarian alam demi terciptanya masa depan yang lebih hijau,” pungkasnya.

Sementara itu, Kades Giripurno, Suntoro berharap, program ini dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh seluruh warga masyarakat Desa Giripurno.

“Harapan kami program ini bisa benar-benar berdampak kepada masyarakat, mulai dari kondisi alam dan perekonomian masyarakat,” ucap Suntoro.(myu)

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved