Berita Malang Hari Ini

Mahasiswa Unisma Bikin Prakarya Bermain Kartu Hanacaraka Sambil Belajar Mengenal Rempah

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Kampus Universitas Islam Malang (Unisma).

Penulis : Sylvianita Widyawati , Editor : Dyan Rekohadi

SURYAMALANG.COM, MALANG - Tiga mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) bersama dosen pembimbingnya Dr Ari Ambarwati membuat prakarya berupa kartu rempah dengan aksara Jawa.

Anggota tim mahasiswa pembuat kartu rempah dengan aksara Jawa yaitu Mukti Irawan, Komariyah dan M Afnani Alifian.

Kreativitas ini mereka ikutkan dalam Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM) yang diadakan oleh Ditjen Kebudayaan Kemendikbud beberapa waktu lalu di tingkat regional 2 Jogjakarta.

"Memang masih belum lolos ke tingkat nasional. Tapi ini sebagai upaya mengingatkan masyarakat, terutama generasi muda. Apalagi atensi pada rempah kini diingat lagi oleh masyakarat untuk imunitas tubuh," kata Bu Ambar, panggilan akrabnya pada suryamalang.com, Jumat (21/8/2020).

Dijelaskan Mukti Irawan, Ketua Tim Sedhaya (Sawuraken Budaya), kartu karya mereka diberi nama Hanacara Card.  Jumlah kartu ada 40.

"Awalnya bikin kartu Hanacaraka yang dibuat seperti main kartu Uno," cerita Mukti.

Mengangkat aksara Jawa karena saat ini banyak milenial yang sudah tidak bisa membaca tulisan Hanacaraka. 

Timnya ingin mengangkat lagi agar diminati milenial dengan pendekatan main kartu.

Namun fasilitator memberi masukan jika hanya memakai aksara Jawa, maka akan menimbulkan kesulitan bagi yang non Jawa jika bermain. Akhirnya dirubah.

"Jadilah aksara hanaracaka sebagai media kedua. Sedang media pertama adalah rempah," jelas mahasiswa semester 5 ini.

Maka kartu pertama dibuat aksara Jawa. Sedang kartu pasangannya ada gambar clue pemanfaatan rempah.

Selain itu juga ada kartu jawaban dan lakoni jika salah pasangan jawaban.

"Itu seperti truth or dare. Kalau lakoni itu ya melaksanakan yang kena hukuman," kata dia. Misalkan hukuman menyanyi dll.

"Untuk seri ini masih dengan informasi tentang rempah dapur. Serta disinggung sedikit soal sejarah rempah. Misalkan tentang Bandaneira yang merupakan tempat pengasingan Bung Hatta dan sebagai daerah penghasil lada," paparnya.

Dijelaskan Mukti, di kegiatan KBKM, ada lomba inovasi kebudayaan dimana timnya ikut. Untuk lomba inovasi itu dengan pendekatan STEAM

Yaitu singkatan dari Sains (science), Teknologi (technology), Teknik (engineering), Seni (art) dan Matematika (mathematic).

Sebelum melaju ke regional, timnya mengajukan proposal dulu tentang apa yang ingin dimajukan di objek kemajuan kebudayaan.

Bentuknya bisa prakarya dan aplikasi. Event ini banyak diikuti kaum muda. Timnya memilih membuat prakarya.

"Untuk Provinsi Jatim ikut regional 2 Jogjakarta. Jadi, regional Jogjakarta ada dua. Untuk regional 1 bagi Provinsi DIY dan Jawa Tengah. Untuk Jatim, yang ikut prakarya ada 35 tim," terangnya.

Karena masih pandemi Covid-19, maka kegiatan dilaksanakan secara daring.

Sebelum diumumkan pada 17 Agustus 2020 lalu, ada banyak rangkaian kegiatan yang bisa diikuti peserta termasuk webinar-webinar.

Dijelaskan, juri memberi respons baik atas prakarya itu terutama edukasi rempahnya.

"Saya merasa bangga bisa lolos di regional. Dari sini juga dapat masukan bagaimana agar kartu juga bisa beraroma rempah," kata dia.

Memunculkan aroma pada kartu memungkinkan seperti dengan memilih salah satu aroma rempah dengan metode infused essense oil.

Saat ini yang beredar di pasaran ada cita rasa pala, cengkeh, sereh yang biasanya untuk aromaterapi.

Untuk menjadikan kartu ini beraroma, maka akan diujicobakan.

"Kata Bu Ambar, dosen pembimbing kami, prakarya ini akan diuruskan hakinya," jawab dia.

Ditambahkan Ambar, negara Indonesia adalah penghasil rempah luar biasa. Karena hal itulah yang menggerakkan kapal-kapal negara lain ke Indonesia.

Seperti kapal dari Inggris, Portugal, Belanda dan Spanyol. Mereka datang ke kepulauan Indonesia untuk memgambil rempah-rempah Indonesia.

"Dalam konteks saat ini, rempah dimanfaatkan untuk imunitas tubuh dan mudah didapatkan," katanya.

Sehingga terkait edukasi rempah-rempah layak dijadikan bacaan atau bahan ajar di sekolah-sekolah. 

Berita Terkini