Suami Menyesal Punya 19 Anak & 2 Istri, Nganggur Sejak Covid-19, Bingung Hidupi Keluarga & Kelaparan

Penulis: Sarah Elnyora
Editor: Adrianus Adhi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Zeher Gezer suami dan ayah dari 19 anak

Penulis: Sarah, Editor: Adrianus Adhi

SURYAMALANG.COM, MALANG - Seorang suami beristri dua menyesal sudah memiliki 19 anak jika tahu akan ada Covid-19. 

Pasalnya, gara-gara virus corona yang melanda seluruh dunia, suami beristri dua itu kini jadi pengangguran. 

Saat ini, suami bernama Zeher Gezer di Turki Tenggara tengah kelaparan dan bingung menghidupi keluarganya. 

Dilansir dari Mirror Jumat (9/10/2020) melalui TribunStyle.com artikel 'Ayah 19 Anak dan 2 Istri Bingung Hidupi Keluarganya, Zeher Gezer menamai anaknya yang ke-19 Yeter yang artinya "cukup".

Zeher Gezer tak berniat untuk menambah anak lagi terlebih kini ia kehilangan pekerjaannya karena pandemi virus corona.

Mau Batal Nikah Tapi Gak Tega Putuskan Pacar, Cowok Nekat Jadi Maling Speaker, Berharap Camer Malu

Cara Licik Sales Gelapkan Uang Rp 700 Juta Milik Perusahaan Tulungagung, Hanya Butuh Waktu 2 Bulan

Anak-anak Zeher Gezer (Newsflash via Mirror)

Zeher Gezer dan keluarganya tinggal di Kota Diyarbakir di Provinsi Turki Tenggara.

Ayah 19 anak ini begitu mencintai keluarganya.

Namun, suami dan istri ini mengatakan butuh perjuangan untuk memenuhi kebutuhan.

Pandemi Covid-19, lanjutnya, telah membuatnya tidak dapat menemukan pekerjaan.

Zeher Gezer mengaku sampai sulit berjuang untuk memberi makan keluarganya.

Di Turki, poligami merupakan suatu hal yang ilegal.

Gadis Belia Terbujuk Janji Sperma di Luar Kemaluan, Kisah Cinta Terlarang di Ladang Jagung Ponorogo

Bermula dari Vape, Pria Tulungagung Ini Setubuhi Anak Tiri Sampai Hamil 7 Bulan

Ilustrasi Poligami (Tribunnews)

Namun, dimungkinkan untuk menyiasati hukum dengan hanya menikahi istri kedua secara hukum agama tetapi tidak mendaftarakannya sebagai pernikahan yang sah di kantor catatan sipil.

Awalnya kedua istri Zeher Gezer mengaku tidak akur.

Namun, mereka kini sudah seperti saudara yang saling dukung.

Istri pertama Zeher Gezer telah melahirkan 10 anak.

Ia berkata,"Awalnya saya cemburu dengan istrinya yang baru menikah dan bahkan sedikit sedih, tetapi sekarang kami seperti saudara perempuan."

“Dia (istri kedua) punya anak dan aku juga. Anak-anaknya adalah milikku dan milikku adalah miliknya,” tambahnya.

Penambahan Kasus Positif Covid-19 di Ponorogo, Muncul Proyek Bendungan

UPDATE Covid-19 di Malang Batu Surabaya & Jawa Timur Jumat 9 Oktober, Positif Aktif di Batu 48 Orang

Anak-anak Gezer (Newsflash via Mirror)

Kesulitan keuangan yang berarti seringkali membuat tidak ada cukup makanan di atas meja.

Selain itu, 4 dari anak perempuan dan 1 anak laki-laki terbesarnya tidak dapat pergi ke sekolah.

Anak perempuan kelas 7 pun harus keluar karena kekurangan biaya.

Zeher Gezer berkata dia berharap untuk menafkahi keluarganya sendiri, namun, dia kehilangan pekerjaan karena pandemi Covid-19.

Zeher Gezer bahkan mengaku menyesal memiliki banyak anak jika tahu akan ada pandemi virus corona. 

"Jika saya tahu ini akan terjadi, saya tidak akan memiliki begitu banyak anak," ungkapnya lagi.

Keluarga Zeher Gezer (Newsflash via Mirror)

Sering tidur dengan kelaparan, Zeher Gezer berharap pemerintah setempat memberikan bantuan untuknya.

"Saya memohon kepada negara, perdana menteri, dan presiden. Kami membutuhkan mereka untuk melindungi kami," kata Gezer.

"Kami hidup sengsara, jika kami tidak segera mendapatkan bantuan, kami semua bisa mati kelaparan," lanjutnya.

  • Kasus Serupa di India 

Di India, kasus serupa juga terjadi dan menimpa seorang bocah 5 tahun bahkan sampai meninggal dunia.

Bocah bernama Sonia Kumari mati kelaparan karena orang tuanya tidak dapat bekerja selama pandemi Covid-19 dan tidak menerima bantuan pemerintah.

Bocah itu tinggal bersama orang tua dan dua saudara kandungnya di Desa Nagla Vidhichand, dekat kota Agra, India, dalam kondisi miskin sebagaimana dilansir dari The Telegraph, Rabu (16/9/2020).

Sonia meninggal pada 25 Agustus karena orang tuanya tidak mampu lagi membeli makanan atau obat-obatan.

Ibu Sonia, Sheela, adalah satu-satunya pencari nafkah bagi keluarganya. Dia bekerja di lokasi konstruksi sebelum pandemi virus corona.

Ayah Sonia, Pappu, tidak bisa bekerja karena menderita gangguan pernapasan.

Ilustrasi meninggal karena kelaparan (TribunMataram Kolase/ Instagram )

Organisasi Buruh Internasional (ILO) telah memperingatkan bahwa 400 juta orang India akan semakin terperosok ke dalam jurang kemiskinan karena pandemi Covid-19.

Akibat pandemi virus corona juga, pengangguran di Negeri “Anak Benua” itu melonjak tajam.

Situs bangunan tempat Sheela bekerja ditutup setelah India menerapkan lockdown secara tiba-tiba pada 25 Maret dan baru dibuka kembali secara bertahap mulai 1 Juni.

Seperti 90 persen orang India lain, Sheela bekerja secara informal. Dia menggantungkan hidupnya pada upah harian, tanpa tabungan finansial.

Kepada India Today TV, Sheela mengatakan selama bulan pertama lockdown dia tidak dapat bekerja sama sekali dan keluarganya tidak punya apa-apa untuk dimakan.

Tetangga mereka memberi mereka sedikit makanan selama 15 hari tetapi tidak dapat memberi dukungan jangka panjang untuk mereka.

Putrinya, Sonia, jatuh sakit setelah mereka tidak makan apa pun selama sepekan penuh.

Selama berbulan-bulan, kondisi Sonia semakin memburuk karena dia hanya makan sesekali saat ibunya bisa mendapatkan pekerjaan di lokasi konstruksi.

Kakak Sonia, Pooja, mengatakan kepada The Hindu beberapa hari sebelum adiknya meninggal, mereka tidak makan sebutir makanan pun.

“Pada hari-hari sebelum kematian Sonia, kami makan biskuit Parle-G dengan air,” kata Pooja.

Di bawah skema Ayushman Bharat, rakyat miskin di India sebenarnya mendapatkan perawatan medis gratis.

Namun skema tersebut tidak bisa menjangkau semua masyarakat miskin di India karena masalah birokrasi.

The Hindu melaporkan tidak ada satu pun warga di desa Nagla Vidhichand yang memiliki kartu Ayushman Bharat.

Teorinya, Pemerintah India juga harus memberikan jatah makanan gratis kepada masyarakat miskin dan telah berkomitmen untuk melakukannya hingga akhir November.

Sementara, desa tempat Sonia tinggal tidak menerima jatah itu dan keluarganya mengklaim mereka diminta untuk membayar suap cukup tinggi agar bisa mendapat kartu Ayushman Bharat.

Awalnya, pemerintah setempat mengatakan kematian Sonia disebabkan karena muntah dan diare serta menyangkal adanya kelaparan di desa tersebut.

Tetapi The Hindu menemukan bukti bahwa penduduk tidak makan selama berhari-hari.

"Orang-orang ini tampaknya diberi makan secara tidak optimal selama kurun waktu yang yang berkelanjutan," kata seorang pakar kesehatan masyarakat kepada The Hindu yang enggan disebutkan identitasnya.

"Asupan makanan mereka yang buruk, adanya penyakit, dan kurangnya sanitasi mendorong mereka, perlahan tapi pasti, melewati batas kelaparan,” sambung dia.

Setelah The Hindu mewartakan temuannya, pihak berwenang langsung memberi keluarga Sonia santunan berupa 50 kilogram tepung, 40 kilogram beras, serta kartu jatah.