SURYAMALANG.COM, MALANG - Persoalan klasik terkait kekurangan air bersih bagi warga di Malang Selatan, jadi atensi Abdul Qodir, anggota DPRD Kabupaten Malang.
Abdul Qodir membawa misi perjuangan untuk proyek air bersih bagi warga Malang bersama dua rekannya di DPRD Kabupaten Malang ke DPR RI.
Tak sendiri, ia ditemani dua 'pendekar' lainnya, di gedung dewan, yakni Zia'ul Haq, anggota dewan tiga periode dari Gerindra, dan Amarta Fasa, anggota dewan tiga periode dari Nasdem.
Bertiga, anggota DPRD Kabupaten Malang itu mencoba mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat mengingat gambaran kebutuhan untuk proyek pengadaan air bersih itu membutuhkan anggaran Rp 85 miliar.
Mereka berangkat ke Jakarta karena tahu Pemkab Malang tak punya anggaran untuk proyek sebesar itu.
Abdul Qodir, yang ketua Fraksi PDI Perjuangan itu tak memaksa APBD untuk menganggarkan meski itu sempat disorot saat fraksinya memberikan pandangan umum ketika rapat paripurna dengan Bupati H Muhammad Sanusi MM, di gedung dewan belum lama ini
"Iya, kami bertiga, memberikan paparan," ungkap wakil ketua DPC PDIP ini, Kamis (19/12/2024).
Abdul Qodir, yang dikenal anak emasnya Ahmad Basarah itu mengaku bisa bertemu bosnya, Puan Maharani, ketua DPR RI.
Mereka bertiga bisa minum manisnya teh hangat di ruangan Puan.
"Alhamdulillah, respons Mbak Puan bagus karena siap mendukung usulan kami terkait program air bersih itu. Ia berjanji akan ikut mengawal usulan anggaran di Banggar DPR RI," ungkapnya.
Begitu juga, Zia'ul Haq. Menurut Abdul Qodir, Zia'ul Haq, yang Sekretaris DPC Gerindra itu juga menghadap bosnya, Sufmi Dasco Ahmad, wakil ketua DPR RI dari Gerindra.
"Untuk berjuang seperti ini, kami harus duet," ungkapnya.
Memang, Perumda Tirta Kanjuruhan sudah berhasil menuntaskan pembangunan proyek senilai Rp 25 miliar, di sumber mata air di Goa Kalisat, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo.
Proyek Itu sudah diresmikan Bupati Sanusi, Senin (23/9/2024) lalu.
Di hadapan Samsul Hadi, Dirut Perumda Tirta Kanjuruhan dan ratusan karyawan, Sanusi memujinya. Sebab, sekali dioperasionalkan, proyek itu langsung bisa melayani air bersih buat ribuan warga di dua kecamatan di Malang selatan.
Di antaranya, Desa Kedungsalam, Desa/Kecamatan Donomulyo, dan Desa Sumbermanjing Kulon, Desa Pandan Rejo Desa Banjarejo, Kecamatan Pagak.
"Ini kinerja yang cukup bagus karena mampu menggali potensi alam, yang sulit jadi mudah sehingga bisa menyelesaikan persoalan warga. Kami bangga pada Pak Dirut karena satu per satu desa yang kekurangan air bersih, bisa dituntaskan," ujar Sanusi.
Sementara, menurut Samsul proyek itu cukup prestisius karena beda dengan sumber lainnya.
Sumber air di Goa Kalisat itu berada di bawah sungai, dengan medan jangkau yang sulit.
Namun, berkat kerja tim dari Perumda Tirta Kanjuruhan dan pemerintah Hungaria, sumber yang semula sulit dimanfaatkan airnya itu kini jadi andalan di Malang selatan.
Bahkan, Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) dan Pemerintah Hungaria, mengakuinya itu merupakan proyek PDAM dengan cakupan tercepat.
"Belum ada sumber lain, begitu dibuka langsung bisa melayani pelanggan sebanyak ini. Yakni, 5.000 pelanggan dengan jaringan baru. Itu karena peralatan yang jadi penunjangnya cukup canggih sehingga mampu mempercepat debit airnya jadi 40 liter per detik," ungkap Samsul.
Selain itu, kecanggihan lainnya, menurut Samsul, karena proyek bantuan Hungaria Rp 25 miliar itu sudah menggunakan teknologi tercanggih. Yakni, SCADA (supervisory control and data auquisition) dan GIS (Geographic information system).
Dua tools itu terkoneksi buat mengendalikan dan mempermudah operasional, dari hulu sampai ke hilir atau ke pelanggan.
Hebatnya, itu cukup dikendalikan dengan gAdget, sehingga bisa diketahui jika ada jaringan yang trouble. Bahkan, bukan cuma itu, lanjut Samsul, dua sistem itu juga bisa mengontrol kehilangan air hingga 16 persen, sehingga kalau ada pencurian air di jaringan, misalnya, itu dengan mudah akan diketemukan dengan cepat.
"Mulai dari penangkapan air, pengelolaan dan produksi, sampai pendistribusian air ke pelanggan, itu dikendalikan dengan digital dan bisa dipantau secara online dan realtime.
Sehingga tak mungkin, ada keluhan yang berarti karena sudah terkoneksi secara digital, termasuk suplai air ke pelanggan itu sedang low atau sedang atau tinggi, bisa kita ketahui," ungkap Samsul, bangga.(fiq)