Jumat, 10 April 2026

Blitar

Tutur, Anak Buruh Tani yang Menginspirasi Satu Sekolah Semangat Hadapi UN

Wit Tutur tergolong siswa cerdas. Di sekolahnya, ia rangking lima besar. Ia pernah meraih peringkat tiga lomba membaca dan membuat puisi se-Jatim.

Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM/Imam Taufiq
Wit Tutur mengerjakan soal ujian nasional (UN) pakai kaki di sekolahnya, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Jawa Timur., Senin (6/5/2015) 

SURYABLITAR.COM, BLITAR - Wit Tutur (15) punya keterbatasan, anggota tubuhnya tidak lengkap. Siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Jawa Timur ini tidak mau menyerah.

Gadis berjilbab ini punya motivasi tinggi dan tidak canggung saat mengikuti ujian nasional (Unas) di sekolahnya yang berlokasi di Dusun Langkapan, Desa Maron, Rabu (6/5/2015).

Berkaca dari Tutur pula, siswa-siswa MTs Negeri Kecamatan Srengat, bersemangat dalam menghadapi UN hari ini.

Anak buruh tani asal Dusun Bululawang, Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar ini, dengan enjoy mengerjakan soal mata pelajaran bahasa Inggris yang diujikan pada Unas.

Dalam mengerjakan soal ujian, Wit Tutur tidak kesulitan. Tidak punya tangan, dia menulis ke lembar jawaban memakai kedua kakinya. Fungsi kaki seperti layaknya tangannya. Ia terlihat cekatan menulisnya.

Caranya, pensilnya itu dijepit di antara ibu jari dengan telunjuk jari kaki kanannya. Begitu juga saat menghapus atau mengambil penggaris, juga tak kesulitan.

Wit Tutur tidak punya dua tangan, lantaran cacat pembawaan sejak lahir.

"Walaupun saya sakit (cacat) seperti ini, namun saya berusaha berbuat seperti orang normal," ujar Wit Tutur, saat ditemui usai mengerjakan soal.

Ia tak tampak minder di antara teman-temannya. Sepertinya, dia sadar betul dengan kekurangannya itu. Makanya itu, ia jauh-jauh hari menyiapkan diri sebelum pelaksanaan Unas.

Wit Tutur tergolong siswa cerdas. Di sekolahnya, ia rangking lima besar. Bahkan, ia pernah meraih peringkat tiga lomba membaca dan membuat puisi tingkat Jatim, untuk tingkat pelajar SMP pada 2014 lalu.

"Walaupun kondisi fisiknya seperti itu, namun ia sangat mandiri. Bahkan, kepeduliannya cukup tinggi. Misalnya, melihat ada sampah di sekolah, ia langsung pungut dengan kakinya dan dimasukkan ke bak sampah," ungkap Dra Nanik Nur Hajati, Kepala Sekolah MTsN Srengat.

Yang membuat para gurunya salut, jelas Nanik, setiap jam istirahat, Wit Tutur tak bermain.

Anak pasangan M Kholili (40) dan Anisa (38) itu, selalu rajin mendirikan salat Dhuha di musala sekolah.

Mungkin saja, dari istiqomahnya menjalankan salat Dhuha itu, segala urusannya dimudahkan. Seperti, sebelum lulus, ia sudah diterima di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Blitar, melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK) siswa.

"Itu karena ia termasuk anak berprestasi. Seperti, pintar matematika dan juara puisi," ungkapnya.

Untuk ke sekolah, tiap hari ia diantarjemput ibunya dengan dibonceng sepeda motor karena jarak rumahnya dengan sekolahannya itu sekitar 7 Km.

"Saya ingin melanjutkan sampai perguruan tinggi karena saya ingin jadi dokter," pungkasnya.

(Imam Taufiq)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved