Kediri
Tak Mampu Berobat, Bocah 6 Tahun Ini Lumpuh
"Untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan, sehingga obatnya tidak saya beli,"
Penulis: Didik Mashudi | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Gara-gara tidak mampu berobat secara rutin saat balita, pertumbuhan Anggun Novita (6) menjadi terganggu. Anggun saat ini hanya dapat berbaring lemah di kasur rumahnya.
Faktor ekonomi keluarga diduga menjadi penyebab keterlambatkan pengobatan. Akibatnya, tumbuh kembang Anggun menjadi tidak normal.
"Dulu waktu masih bayi anaknya jatuh dari ayunan. Oleh dokter kami diminta untuk mengikuti terapi di setiap minggu di rumah sakit," ungkap Ny Kodim (40) ibunda Anggun warga Desa Sumberagung, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri kepada Surya, Rabu (20/1/2016).
Dijelaskan, selain mengikuti terapi, anaknya harus mengonsumsi sejumlah obat syaraf yang harganya sangat mahal.
"Karena harganya mahal kami tidak mampu menebus resepnya," jelasnya.
Meski keluarganya saat ini telah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), namun masih belum mampu berobat rutin.
"Ada kartu KIS, tapi ada obat yang harus kami beli," tambahnya.
Masalahnya, jenis obat untuk anaknya tidak ditanggung seluruhnya. Sehingga harus membeli di apotik yang ada di luar rumah sakit.
Harga resep obat itu juga mahal.
"Untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan, sehingga obatnya tidak saya beli," jelasnya.
Selain itu Ny Kodim mengaku kesulitan biaya transportasi dari rumahnya ke rumah sakit yang ada di Pare.
"Kalau ingin sembuh kata dokter harus rutin terapi. Lha masalahnya, untuk biaya wira wiri itu yang tidak ada," ungkapnya.
Suami Ny Kodim hanyalah buruh tani yang tidak punya penghasilan tetap setiap hari. Sementara dia harus merawat anak-anaknya yang lain.
Sehingga Anggun hanya mendapat pengobatan alternatif seperti parutan jahe, kunir dan madu.
"Kami berharap ada yang mau membantu membiayai pengobatan anak kami," harapnya.
Koordinator Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jatim Arif Witanto menyebutkan, para pemegang kartu KIS dalam prakteknya tidak dapat berobat gratis. Karena ada beberapa jenis obat yang tidak dicover.
"Pemegang kartu KIS khan masyarakat tidak mampu. Sehingga tidak mungkin menebus obat-obatan syaraf yang harganya sangat mahal," paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/lumpuh-kediri_20160120_173614.jpg)