Jumat, 10 April 2026

Blitar

Awas, Flu Singapura Memawah dan Serang 261 Anak di Blitar

"Kenaikan jumlah penderita flu burung itu harus diwaspadai. Apalagi, musim seperti ini (cuaca yg tak menentu),"

Penulis: Imam Taufiq | Editor: fatkhulalami
Istimewa
ilustrasi 

SURYAMALANG.COM, BLITAR - Agar pada Lebaran nanti, para orangtua tak direpotkan dengan penyakit flu Singapura sebaiknya mulai sekarang kondisi kesehatan anaknya harus dijaga. Sebab, mulai sebulan ini, penyakit yang dikenal dengan nama hand, foot, and mouth disease (HFMD) ini masih memawah di Kabupaten Blitar.

Hingga Minggu (26/6/2016) siang kemarin, jumlah penderitanya masih mencapai sekitar 261 anak, dengan usia rata-rata di bawah 10 tahun. Memang kalau dibandingkan dengan sebulan lalu, jumlah penderitanya sekarang ini ada penurunan. Sebab, sebulan lalu mencapai 361 anak. Namun, penurunan itu tak signifikan karena di beberapa kecamatan malah meningkat.

dr Christine Indrawati, Kabid P2MK (Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, mengatakan, dibandingkan minggu kemarin, jumlah penderitanya terdapat kenaikan. Sebab, minggu kemarin baru berjumlah 116 anak, kini sudah mencapai sebanyak 261 penderita.

"Kenaikan jumlah penderita flu burung itu harus diwaspadai. Apalagi, musim seperti ini (cuaca yg tak menentu), sehingga orangtua harus pandai-pandai menjaga kesehatan anaknya," paparnya.

Jumlah penderita sebanyak itu tersebar di beberapa kecamatan. Di antaranya, Kecamatan Talun terdapat 48 penderita, Kecamatan Selopuro terdapat 29 penderita, Kecamatan Bakung ada 23 penderita. Data itu berdasarkan laporan puskemas sehingga tak semua penderitanya terdata.

"Sebab, tak semua penderitanya dirawat di puskemas, namun ada yang di rumah sakit atau rawat jalan di dokter," paparnya.,

Menurutnya, para penderitanya itu hanya dirawat di puskemas karena penyakit ini tak membahayakan dan akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu tujuh hari. Itu dengan cacatan, asal daya tahan tubuh anaknya bagus atau tak menurun.

Namun, kebanyakan penderitanya susah makan karena mulutnya perih jika kemasukan makanan atau air sehingga menyebabkan stamina anaknya mudah ngedrop.

"Bila sampai tujuh hari, belum sembuh, sebaiknya segera dibawa ke dokter. Sebab, bisa jadi anak itu mengalami dehidrasi karena enggan makan atau minum selama terkena penyakit tersebut," ungkapnya.

Agar lebih jelas, sebaiknya masyarakat juga mengenali gejala munculnya penyakit ini. Di antaranya, ditandai demam tinggi, nyeri persendian, dan munculnya bintik merah bernanah bening. Bercak berair itu hampir sama dengan penyakit cacar air. Namun bedanya, kalau cacar air itu bercaknya memenuhi sekujur tubuh. Tapi, kalau flu Singapura itu hanya terdapat pada bagian tertentu, seperti di telapak tangan, telapak kaki, dan mulut.

Seperti dialami Nadin, balita berusia 7 tahun, yang asal Desa Jeruk, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar ini. Menurut ibunya, Siti Mutmainah (38), anaknya terkena flu Singapura sejak Rabu (22/6) lalu. Itu diawali dengan demam yang cukup tinggi, kemudian disusul munculnya bintik-bintik berwarna merah di kedua telapak tangannya, kedua telapak kakinya.

"Mulai saat itu anak saya rewel, tak mau makan minum. Katanya, tenggorokannya perih kalau kemasukkan makanan," tutur Mutmainah, ditemui di Puskemas Selopuro, Minggu (26/6/2016).

Ditambahkan Christine, untuk menghindari terjadinya penularan kian meluas, anak yang menderita penyakit ini harus memakai masker. Itu agar virusnya tak menyebar ke anak yang sehat.

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved