Malang Raya
Sekolah Perlu Ajarkan Pendidikan Alat Kontrasepsi, Ini Alasannya
“Yang dimaksud diajarkan di sekolah itu ialah pada jenjang SMA. Masa itu merupakan masa remaja dan masa pertumbuhan menajdi dewasa,"
Penulis: Sany Eka Putri | Editor: fatkhulalami
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Siswanto Agus Wilopo, Ketua Pusat Kesehatan Reproduksi dan sekaligus Guru Besar Departmen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi Fakultas Kedokteran Universtas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mencontohkan satu dari penggunaan alat kontrasepsi, yakni kontrasepsi dalam rahim (IUD).
Penggunaan alat kontrasepsi IUD di Indonesia memang sedikit, sekitar 7 persen dari 100 persen pengguna kontrasepsi, selain karena cara pemasangan yang harus ekstra hati-hati dan dilakukan oleh para ahli, juga tingkat kegagalan yang tinggi.
Tetapi, ia mengatakan, apapun alat kontrasepsi yang digunakan, efek yang diberikan akan sesuai pemakai. Penggunaan paling tinggi yakni injeksi, pil, implant, dan IUD.
“Idealnya IUD itu digunakan selama 12 tahun. Selebihnya harus dilepas. Karena pada penggunaan IUD ion-ion yang dikeluarkan akan berkurang. Mengapa tingkat kegagalan tinggi, karena rawan lepas. Belum lagi perawatnya yang takut memasang. Nah yang seperti ini yang harus ditingkatkan tentang pemahaman dan pelayannan pemasangan alat kontrasepsi,” tuturnya saat materi tentang Penanganan Panggunaan Kontrasepsi dalam Seminar Nasional Program KKBPK Memperingati Hari Kontrasepsi se Dunia yang diperingati setiap tanggal 26 September, di Hotel Atria, Senin (26/9/2016)..
Padahal, lanjut dia, yang memasang alat kontrasepsi ini mendapat insentif. Tetapi kalau yang memasang tidak paham dan hanya bertahan 1 tahun saja, maka akan sia-sia. Saat ini harus diajarkan cara pemasangan IUD yang benar.
Selain itu, ia juga menyarankan sekolah perlu mengajarkan pendidikan tentang alat kontrasepsi. Dikatakannya kontrasepsi itu bukanlah hal yang tabu atau awam. Kebanyakan memang diusia remaja banyak yang sudah melakukan hubungan seksual.
Akibat kurangnya pemahaman tentang alat kontrasepsi banyak yang hamil di luar nikah, yang berujung pada meningkatnya angka kelahiran bayi serta kematian ibu.
“Yang dimaksud diajarkan di sekolah itu ialah pada jenjang SMA. Masa itu merupakan masa remaja dan masa pertumbuhan menajdi anak dewasa. Memang sudah diajarkan tentang alat reproduksi. Kita semua tahu kalau fenomena hubungan seksual dikalangan remaja hampir seluruh negara, termasuk di Indonesia,” terang dia.
Dia juga menilai, sosialisasi tentang alat kontrasepsi kepada masyarakat juga sangat minim. Karena pengetahuan itu hanya dimiliki oleh kalangan pemerintah dan medis. Padahal sangat penting masyarakat tahu tentang apa saja akibat dan manfaat dari penggunaan alat kontrasepsi.
Ia menyebutkan sekolah kebidanan di seluruh Indonesia ada sekitar 700 lembaga, sedangkan fakultas kedokteran hanya ada 83. Hal ini, menurut Siswanto sangat tidak seimbang.
“Fakultas Kedokteran lah yang nantinya memberikan pemahaman tentang alat kontrasepsi. Kalau sedikit perbandingannya, ya tidak seimbang,” pungkas dia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/seminar1_20160926_203045.jpg)