Jumat, 10 April 2026

Malang Raya

Dosen ITN Malang Kembangkan Sistem Pemandu Pengemudi Berbasis Kamera dan Komputer Mini

"Algoritma yang digunakan sangat kompleks dan membutuhkan biaya yang besar, sehingga agak sulit digunakan segala jenis mobil," kata dosen ITN

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah | Editor: eko darmoko
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Dosen ITN Malang, Dr Eng Aryuanto Soetedjo 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Intelligent transportation systems (ITS) saat ini telah berkembang di dunia, meliputi infrastruktur jalan raya, lalu lintas, termasuk kendaraan misalnya autonomous mobile vehicle yang dikembangkan oleh Google.

Salah satu jenis ITS adalah driver assistant system yaitu pemandu pengemudi agar aman dalam berkendara.

Selama ini, sistem pemandu pengemudi telah ada dan diproduksi oleh industri namun menggunakan peralatan canggih dan hanya diproduksi vendor mobil besar.

"Algoritma yang digunakan sangat kompleks dan membutuhkan biaya yang besar, sehingga agak sulit digunakan segala jenis mobil," kata dosen ITN Malang, Dr Eng Aryuanto Soetedjo, Jumat (26/5/2017).

Oleh karena itu, Aryuanto coba mengembangkan penyederhanaan algoritma sistem pemandu pengemudi. Penyederhanaan itu kemudian dimasukkan ke dalam single board komputer Raspberry Pi yang hanya seukuran kartu kredit.

"Komputer mini dengan sistem pemandu pengemudi itu kemudian bisa ditanam ke sistem di dalam mobil apapun," jelas Aryuanto pada SURYAMALANG.COM.

Alat tersebut akan mendeteksi kelelahan pada pengemudi menggunakan dual kamera.

"Kamera akan mendeteksi kedipan mata, apakah mata pengemudi tersebut mengantuk atau tidak," kata dosen Teknik Elektro ITN.

Ketika terdeteksi mata mengantuk, maka sistem pemandu yang mengingatkan berupa alarm atau getaran.

Penelitian Aryuanto mendapatkan hibah kompetensi dari Dikti selama 3 tahun sejak 2016.

"Tahun ini kami akan lanjut mengembangkan deteksi rambu lalu lintas dan deteksi marka jalan dan obyek di depannya," ujar Aryuanto.

Luaran dari penelitiannya adalah proceeding di seminar internasional di Nagoya Jepang pada Agustus 2016, dan jurnal internasional bereputasi.

"Selanjutnya akan diupayakan mengajukan draft paten," katanya.

Dengan penyederhanaan algoritma dan alat yang hanya berupa komputer mini dan dual kamera, biaya yang dibutuhkan hanya berkisar Rp 1 juta.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved