Senin, 13 April 2026

Kabar Jember

Melihat Cara Kerja Detektor Angin Puting Beliung Karya Peneliti Universitas Jember

CARA KERJA DETEKTOR PUTING BELIUNG - Sirine melengking terdengar dari halaman Masjid Baitur Ridho Dusun Gempal Desa Pakusari, Pakusari, Jember.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: yuli
sri wahyunik
Satrio Budi Utomo (kiri) dan Januar Fery Irawan bersama alat pendeteksi angin puting beliung di halaman Masjid Baitur Ridho Dusun Gempal Desa Pakusari, Jember, 

SURYAMALANG.COM, JEMBER - Sirine melengking terdengar dari halaman Masjid Baitur Ridho RT 02 RW 12 Dusun Gempal Desa Pakusari Kecamatan Pakusari, Jember, Rabu (12/12/2018).

Sirine itu berasal dari pengeras suara sebuah alat yang terpasang tak jauh dari pagar masjid. Alat setinggi lebih dari 2 meter itu adalah alat pendeteksi angin puting beliung.

Sirine itu terdengar ketika Mahfud, Ketua RT 02 RW 12 Dusun Gempal menghidupkan arus listrik ke alat tersebut. Sirine itu tanda alat tersebut standby dan beroperasi.

Sirine yang hanya berbunyi melengking pendek tidak membuat warga panik. Namun akan berbeda, jika lengkingan sirine itu panjang dan tidak terputus-putus. Tandanya, alat tersebut mengirimkan peringatan dini adanya angin puting beliung.

Alat tersebut akan berbunyi lantang dan panjang saat menangkap hembusan angin berkekuatan di atas 35 kilometer per jam. Alat itu mampu menangkap hembusan angin puting beliung yang titiknya masih berjarak 1 kilometer dari alat tersebut.

"Saat sakelar yang menghubungkan alat ini hidup, maka sirine akan berbunyi pendek saja. Itu tanda standby. Namun berbeda jika menangkap angin yang kekuatannya lebih dari 35 kilometer per jam maka sirine akan berbunyi nyaring dan lama," kata Satrio Budi Utomo, salah satu peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Jember kepada SuryaMalang.com, Rabu (12/12/2018).

Alat pendeteksi angin puting beliung itu ciptaan empat peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej) yakni Januar Fery Irawan, Satrio Budi Utomo, FX. Kristianta dan Ike Fibriani. Empat detektor angin puting beliung ciptaan mereka telah terpasang di empat titik sejak tahun 2017.

Keempatnya terpasang masing-masing dua unit di Kelurahan Karangrejo Kecamatan Sumbersari, dan dua unit di Desa Pakusari Kecamatan Pakusari.

"Dua ditempatkan di Pakusari, baru dipasang tahun 2018 ini, karena desa ini pernah diterjang angin puting beliung tahun 2017 lalu. Bahkan satu orang meninggal dunia," lanjut Satrio.

Detektor angin puting beliung itu diciptakan oleh mereka mengingat ancaman angin puting beliung adalah salah satu potensi ancaman bencana alam di Jember, dan beberapa tempat lain di Indonesia. Jember sendiri memiliki sejumlah daerah yang kerap dilanda angin puting beliung saat pergantian musim, baik dari musim panas ke musim penghujan, pun sebaliknya.

DETEKTOR PUTING BELIUNG - Alat ini dipasang di halaman Masjid Baitur Ridho RT 02 RW 12 Dusun Gempal Desa Pakusari Kecamatan Pakusari, Jember, Rabu (12/12/2018).
DETEKTOR PUTING BELIUNG - Alat ini dipasang di halaman Masjid Baitur Ridho RT 02 RW 12 Dusun Gempal Desa Pakusari Kecamatan Pakusari, Jember, Rabu (12/12/2018). (sri wahyunik)

Menurut Ketua Tim Peneliti Januar Fery Irawan, detektor angin puting beliung yang mereka ciptakan bekerja dengan cara mengukur kecepatan angin yang datang. “Kami menempatkan animometer analog yang fungsinya mengukur kecepatan angin, jika kecepatan angin mencapai 35 kilometer per jam, maka otomatis sensor akan mendeteksi sebagai gejala angin puting beliung dan memerintahkan sirine agar berbunyi,” jelas dosen Program Studi Teknik Sipil yang akrab dipanggil Januar ini.

Sirine bakal berbunyi selama kurang lebih sepuluh hingga lima belas menit guna memperingatkan warga sekitar. Alat itu bisa mendeteksi titik angin puting beliung yang masih berjarak sekitar 1 kilometer dari alat tersebut. Karenanya, warga di sekitar alat itu yang mendengarkan suara sirine bisa mempersiapkan diri. Mereka disarankan untuk keluar rumah, dan berkumpul di tempat aman, salah satunya di Masjid Baitur Ridho, bagi warga di sekitar RT 02 Dusun Gempal.

"Warga masih memiliki waktu cukup lama untuk menyelamatkan diri. Suara sirine ini juga terdengar sampai di jarak 1 kilometer," tegas Januar.

Baik Januar maupun Satrio berharap alat tersebut bisa membantu warga untuk secara cepat dan tanggap menghadapi bencana, sehingga tingkat kefatalan bisa diminimalkan, terutama untuk korban jiwa.

Pada Januari 2017 lalu, angin puting beliung melanda RT 02 Dusun Gempal Desa Pakusari. 11 bangunan rusak, dan satu orang meninggal dunia karena tertimpa bangunan.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved