Jumat, 8 Mei 2026

Kota Malang

Dinas Kesehatan Kota Malang Antisipasi Penyebaran Campak dengan Program Imunisasi, Mulai April 2026

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mulai melakukan langkah antisipasi penyebaran campak dengan menggelar program imunisasi kejar

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
IMUNISASI CAMPAK - Seorang pelajar SD menerima vaksinasi di sekolahnya. Pemkot Malang terus mengejar ketercapaian vaksinasi campak untuk membentuk kekebalan komunal di Kota Malang. Program vaksinasi serempak akan mulai dilaksanakan per 1 April 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Dinkes Kota Malang mulai melakukan langkah antisipasi penyebaran campak dengan menggelar program imunisasi kejar melalui Catch Up Campaign (CUC) yang akan dimulai pada 1 April 2026
  • Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, mengatakan program ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Kementerian Kesehatan terkait kewaspadaan terhadap penyakit campak
  • Program ini menargetkan sekitar 13 ribu anak usia 9 bulan hingga 13 tahun

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANGDinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mulai melakukan langkah antisipasi penyebaran campak dengan menggelar program imunisasi kejar melalui Catch Up Campaign (CUC) yang akan dimulai pada 1 April 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, mengatakan program ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Kementerian Kesehatan terkait kewaspadaan terhadap penyakit campak.

“Sebagai upaya pengendalian, pemerintah pusat melalui Kemenkes sudah mencanangkan Catch Up Campaign (CUC) campak."

"Kami mulai pendataan dan pelaksanaan akan dimulai 1 April di 16 puskesmas,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).

Program ini menargetkan sekitar 13 ribu anak usia 9 bulan hingga 13 tahun.

Namun, sebelum vaksinasi dilakukan, seluruh sasaran akan melalui proses skrining terlebih dahulu.

“Yang sudah mendapatkan imunisasi campak lengkap tidak akan divaksin lagi. Tujuannya untuk mencapai herd immunity minimal 95 persen,” jelasnya kepada SURYAMALANG.COM.

Baca juga: Refleksi Usia 112 Tahun, Ketua DPRD Kota Malang Ajak Masyarakat Aktif Beri Masukan

Husnul menjelaskan, CUC merupakan program imunisasi kejar yang menyasar anak-anak yang belum mendapatkan vaksin campak secara lengkap.

“CUC ini istilahnya menyulam, untuk anak usia 9 bulan sampai 13 tahun yang belum lengkap imunisasinya,” katanya.

Ia membedakan CUC dengan Outbreak Response Immunization (ORI) yang dilakukan saat terjadi kejadian luar biasa (KLB), di mana seluruh sasaran diberikan vaksin tanpa melihat status imunisasi.

Meski program ini menyasar anak-anak, Husnul mengingatkan bahwa orang dewasa juga tetap berisiko tertular campak, terutama jika tidak menjaga kondisi kesehatan.

“Untuk orang dewasa, tetap harus memperhatikan protokol kesehatan seperti saat pandemi Covid-19, terutama jika kondisi tubuh tidak sehat,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di ruang tertutup dengan banyak orang serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti batuk dan pilek.

“Kalau ada keluhan, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Nanti akan dilihat juga riwayat imunisasinya,” tambahnya.

Dinkes Kota Malang juga telah menginstruksikan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

“Sekarang campak bukan lagi penyakit biasa. Ini yang perlu diketahui masyarakat,” tegas Husnul.

Baca juga: Berawal dari MiChat, Polisi Bongkar Sindikat Peredaran Uang Palsu di Kota Batu, Amankan 5 Tersangka

Ia menambahkan, tingginya mobilitas masyarakat di Kota Malang menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi untuk mencegah penularan virus.

“Kalau herd immunity 95 persen tercapai, potensi penularan akan berkurang. Tapi protokol kesehatan tetap harus dijalankan,” jelasnya.

Terkait penggunaan alat pelindung diri (APD), Husnul menyebut tenaga kesehatan tidak perlu menggunakan APD lengkap seperti saat pandemi, namun tetap harus menerapkan langkah pencegahan, mengingat penularan campak terjadi melalui saluran pernapasan.

“Yang penting bagaimana meminimalisir transmisi virus,” pungkasnya.

Kepala Puskesmas Cisadea, Widjatmiko mengatakan pihaknya secara rutin membantu vaksinasi di wilayah kerja.

Wilayah kerja Puskesmas Cisadea antara lain yakni Kelurahan Purwantoro dan Kelurahan Blimbing.

“Kami terjunkan petugas agar jemput bola ke lapangan. Vaksinasi terus kami lakukan,” terangnya.

Hingga saat ini, proses masih terus berjalan. Widjatmiko mengatakan capaiannya terus digenjot hingga lebih dari 90 persen.

Tantangan di lapangan sejauh ini adalah persepsi masyarakat perihal dampak vaksinasi. 

Widjatmiko mengatakan masih ada sebagian kecil warga yang beranggapan bahwa vaksinasi akan membuat anaknya sakit.

Widjamitko menegaskan bahwa vaksinasi berfungsi untuk memperkuat kekebalan tubuh anak sehingga kebal terhadap sejumlah virus, termasuk campak.

“Kami terus edukasi secara perlahan agar mereka paham bahwa ini untuk kebaikan masa depan anak,” paparnya.

Sejauh ini masih belum ada laporan temuan terbaru di Puskesmas Cisadea. Meski begitu, tim kesehatan terus melakukan vaksinasi di lapangan.

Di tempat terpisah, Kepala Puskesmas Janti, Endang Listyowati, menyampaikan bahwa sebelumnya telah melaksanakan vaksinasi ORI di dua wilayah puskesmas yang cakupan imunisasinya belum mencapai batas aman 95 persen.

“Karena adanya kasus-kasus penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, dalam hal ini campak,” ujarnya.

Menurut Endang, target ORI mencapai masuk kategori berisiko. Sasaran mencakup seluruh anak usia 9 bulan hingga 13 tahun, tanpa melihat status imunisasi sebelumnya.

“Harapan kita minimal 95 persen dari 32 ribu sasaran itu bisa mendapat vaksin. Ini penting untuk memutus rantai penularan campak,” tegasnya.

Endang menjelaskan bahwa temuan kasus campak terjadi di lima kecamatan di Kota Malang. Namun, wilayah yang menjadi fokus ORI adalah dua puskesmas yang capaian imunisasinya masih di bawah standar.

“Selain capaian imunisasi yang kurang dari 95 persen, mobilitas masyarakat di wilayah ini juga cukup tinggi,” katanya.

Endang mengakui ada sejumlah faktor yang membuat capaian imunisasi sebelumnya belum optimal, di antaranya, orang tua tidak berada di tempat saat jadwal Posyandu. Anak dalam kondisi tidak fit, seperti batuk atau pilek, sehingga tidak bisa divaksin.

Pemahaman masyarakat tentang pentingnya imunisasi masih perlu diperkuat. Pihaknya bekerja sama dengan tim penggerak PKK, kecamatan, hingga kelurahan untuk membantu mobilisasi warga selama program berlangsung.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved