Kamis, 11 Juni 2026

Harga BBM Naik

Harga BBM Nonsubsidi Naik, Ada Potensi Banyak Pembeli Beralih ke BBM Subsidi

Kendaraan roda empat dan roda dua mengular di SPBU Ciliwung, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Rabu (10/6/2026)

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
BBM NAIK - Kendaraan roda empat mengantre di jalur subsidi SPBU Ciliwung, Kota Malang, berbeda dengan jalur non subsidi yang tidak ada antrean, Rabu (10/6/2026). Pascakenaikan harga BBM non subsidi, manajemen SPBU Ciliwung menilai masih belum ada dampak penjualan terhadap konsumen. 
Ringkasan Berita:
  • Antrean mengular di SPBU Ciliwung, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Rabu (10/6/2026)
  • Bahkan antrean kendaraan roda dua mengular sampai badan jalan dekat tikungan lampu lalu lintas
  • Harga BBM nonsubsidi naik, ada potensi pembeli beralih ke BBM subsidi

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Kendaraan roda empat dan roda dua mengular di SPBU Ciliwung, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Rabu (10/6/2026).

Sejak pagi hingga siang hari pukul 14.00, antrean masih terjadi di SPBU Ciliwung.

Bahkan antrean kendaraan roda dua mengular sampai badan jalan dekat tikungan lampu lalu lintas.

Hendra, pengendara yang ikut mengantre bercerita bahwa ia hendak membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertalite.

“Biasanya memang panjang seperti ini kalau jalur Pertalite di SPBU Ciliwung,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (10/6/2026).

Meskipun harga Pertalite tidak mengalami kenaikan, Hendra tetap memendam kekhawatiran. Menurutnya, bisa saja harga Pertalite ikut naik di kemudian hari.

“Awalnya saya kira harga Pertalite ikut naik, ternyata hanya harga yang non subsidi,” ujar Hendra.

“Saya sempat khawatir karena kenaikannya kan tinggi. Bukan tidak mungkin juga nanti harga Pertalite ikut naik tinggi,” katanya.

Hendra yang sehari-hari bekerja sebagai ojek online berpendapat bahwa harga BBM harus terjangkau dengan kemampuan keuangan masyarakat.

Sebagai pengemudi ojek online, Hendra sangat bergantung pada kendaraannya untuk melayani pelanggan.

Baca juga: Harga BBM Non Subsidi Naik, Pengguna Jalur Malang-Batu Menjual Mercedes Miliknya

“Pendapatan tidak naik-naik, tapi harga BBM bisa saja naik. Sekarang saja yang non subsidi sudah naik. Kalau pendapatan tidak ikut naik, ya berat juga,” katanya.

Kenaikan harga BBM non-subsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 belum berdampak signifikan terhadap jumlah konsumen di SPBU Ciliwung Kota Malang.

Antrean kendaraan, terutama roda dua pengguna Pertamax, masih terlihat panjang pada hari pertama setelah penyesuaian harga diberlakukan.

Supervisor SPBU Ciliwung Malang, Fajar Heri, mengatakan aktivitas pengisian BBM pada Rabu (10/6/2026) masih berlangsung normal seperti hari-hari sebelumnya. Antrean biasa terjadi di SPBU Ciliwung.

“Kalau untuk perbedaan secara signifikan tidak ada perubahan. Antrean masih panjang, terutama roda dua,” kata Fajar.

Antrean kendaraan roda dua yang menggunakan Pertamax masih terlihat sejak pagi hingga siang hari.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga belum langsung memengaruhi penurunan pola konsumsi masyarakat.

“Kalau di SPBU Ciliwung ini, dari pagi antrean roda dua tetap panjang. Belum terlihat ada perubahan,” ujarnya.

Baca juga: MinyaKita Langka atau Mahal? Bulog Malang Sebut Distribusi Tak Sepenuhnya di Tangan Mereka

Sementara untuk kendaraan roda empat, Fajar menyebut situasinya juga relatif normal.

Tidak ada lonjakan maupun penurunan yang mencolok dibandingkan sebelum harga BBM non-subsidi naik.

“Kalau mobil masih normal. Belum ada perbedaan yang signifikan,” katanya.

Ia menduga sebagian masyarakat masih belum mengetahui informasi kenaikan harga karena kebijakan tersebut baru diumumkan pada malam sebelumnya.

“Informasi kenaikannya kan baru tadi malam. Mungkin banyak yang belum tahu,” ujarnya.

Selain itu, karakteristik konsumen di SPBU Ciliwung juga cukup unik.

Sebagian pengguna kendaraan roda dua memilih membeli Pertamax karena enggan mengantre panjang di jalur Pertalite.

“Kadang konsumen malas antre Pertalite, akhirnya memilih Pertamax,” katanya.

Pada hari pertama pascakenaikan harga, pihak SPBU juga belum menerima keluhan berarti dari pelanggan.

Mayoritas konsumen hanya menanyakan waktu mulai berlakunya harga baru.

“Belum ada komplain. Paling hanya bertanya, ‘Lho naik ya?’ lalu kami jelaskan kalau kenaikannya berlaku sejak tadi malam,” ujarnya.

Fajar menjelaskan, BBM non-subsidi memang memiliki karakteristik harga yang lebih fluktuatif dibandingkan BBM subsidi.

Karena itu, konsumen yang selama ini menggunakan Pertamax maupun produk non-subsidi lainnya umumnya sudah terbiasa menghadapi perubahan harga setiap bulan.

“Kalau non-subsidi memang hampir setiap bulan ada perubahan harga. Konsumen kami juga sudah terbiasa,” katanya.

Di SPBU Ciliwung sendiri, kapasitas tangki untuk Pertamax mencapai 30 kiloliter (KL), Pertamax Turbo 20 KL, dan Pertamina Dex 10 KL. Seluruh jenis BBM tersebut masuk kategori non-subsidi.

Untuk Pertamax, rata-rata kebutuhan harian mencapai sekitar 8 KL atau setara 8.000 liter per hari. Karena itu, pihak SPBU secara rutin melakukan penebusan pasokan guna menjaga ketersediaan stok.

Meski konsumsi Pertamax relatif stabil, kondisi berbeda terjadi pada Pertamax Turbo yang menyasar segmen kendaraan premium.

Menurut Fajar, penjualan Pertamax Turbo sempat mengalami penurunan cukup signifikan setelah harga produk tersebut naik tajam beberapa waktu lalu. Sebelum harga baru ditetapkan.

“Kalau Turbo memang turun jauh setelah kenaikan harga sebelumnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan pengguna Pertamax Turbo umumnya merupakan pemilik kendaraan kelas premium seperti Toyota Vellfire dan kendaraan berperforma tinggi lainnya.

Beralih ke Subsidi

Ketika harga meningkat drastis, sebagian konsumen mulai mempertimbangkan alternatif bahan bakar lain.

Fenomena serupa juga pernah terjadi pada Pertamina Dex yang sempat mengalami lonjakan harga hingga mendekati Rp 28 ribu per liter. Saat itu, banyak pengguna kendaraan diesel beralih ke BBM subsidi.

“Waktu harga Dex naik sampai sekitar Rp 27 ribuan, banyak yang beralih ke subsidi karena keberatan,” katanya.

Perpindahan konsumen tersebut bahkan berdampak pada meningkatnya permohonan pendaftaran berkode BBM subsidi di SPBU.

Menurut Fajar, hampir setiap hari ada masyarakat yang datang untuk mengurus berkode kendaraan.

“Setiap hari pasti ada yang mengurus berkode. Bisa sekitar lima orang dalam satu shift, bahkan lebih,” ujarnya.

Fajar mengatakan tidak cukup khawatir terhadap kenaikan harga BBM non subsidi kali ini.

Pasalnya, BBM tetap menjadi kebutuhan utama masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

“Karena ini kebutuhan pokok juga. Jadi kami tidak terlalu khawatir konsumen berkurang,” katanya.

Ia memperkirakan dampak kenaikan harga baru akan terlihat dalam beberapa waktu ke depan setelah masyarakat benar-benar mengetahui dan menyesuaikan pengeluaran mereka terhadap harga baru BBM non-subsidi.

Untuk sementara, aktivitas di SPBU Ciliwung masih berlangsung normal dengan antrean kendaraan yang relatif sama seperti sebelum kenaikan harga diberlakukan. 

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved