Islam

Cara Nabi Muhammad Memperlakukan Anak-anak Tirinya

Ummu Habibah dan Saudah, dua istri Rasulullah yang memiliki anak dengan suami sebelumnya, sangat memuji dan menghormati Rasulullah.

Cara Nabi Muhammad Memperlakukan Anak-anak Tirinya
web
ILUSTRASI KITAB SUCI ISLAM. 

SURYAMALANG.COM - Rasulullah memiliki tujuh anak kandung. Enam di antaranya –Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah,dan Abdullah- dilahirkan oleh Khadijah. Sementara yang satu –Ibrahim- berasal dari Mariah Al-Qibthiyah.

Semua putra Rasulullah wafat saat masih kecil. Sedangkan semua putrinya sempat masuk Islam dan ikut hijrah ke Madinah, meski mereka semua meninggal dunia ketika masih muda, kecuali Fatimah. Anak Rasulullah yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib ini meninggal dunia enam bulan setelah Rasulullah wafat.

Setelah Khadijah mangkat, Rasulullah menikahi beberapa janda.

Sebagian ada yang memiliki anak, dan sebagian yang lain tidak. Dengan demikian ‘status’ Rasulullah bertambah. Bukan hanya menjadi suami, tapi juga menjadi ayah tiri. Lalu bagaimana Rasulullah memperlakukan anak-anak tirinya itu?

Terkait hal ini, ada beberapa kisah yang menceritakan bagaimana hubungan Rasulullah dengan anak-anak tirinya. Pertama, Umar bin Ummu Salamah. Suami Ummu Salamah sebelumnya adalah Abu Salamah. Dia ditinggal mati suaminya lalu kemudian dinikahi Rasulullah.

Diriwayatkan bahwa pada saat pindah ke kediaman Rasulullah, Ummu Salamah membawa serta empat orang anaknya. Salah satunya adalah Umar bin Ummu Salamah. Umar mengatakan bahwa Rasulullah senantiasa memberinya bimbingan dan menganggapnya seperti anak sendiri.

“Waktu muda di biliki Rasulullah aku pernah ceroboh memegang piring. “Hai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan, makanlah yang dekat dengamu.” Begitu beliau menegurku,” cerita Umat bin Ummu Salamah dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad karya Nizar Abazhah.

Kedua, Rasulullah juga mencurahkan kasih sayang dan kelembutan kepada Zainab, anak Ummu Salamah yang paling kecil. Suatu ketika Rasulullah masuk ke kamar Ummu Salamah, namun pada saat itu Zainab sedang menyusu kepada ibunya. Melihat hal itu Rasulullah membiarkan Zaibab terus menyusu dan mengurungkan niatnya kepada Ummu Salamah. Lalu ia kemudian meninggalkannya. Kejadian seperti ini terjadi berulang kali.

Ketiga, perlakuan kasih dan lembut Rasulullah juga dirasakan Hindun bin Abu Halah, anak Khadijah dengan suami sebelumnya. Hindun menilai bahwa Rasulullah adalah ayah yang terbaik yang sangat mencintai dan memberikan pengaruh yang besar terhadap hidupnya.

“Ayahku Muhammad, ibuku Khadijah, saudaraku Qasim, dan saudariku Fatimah. Siapa yang mempunyai nasab seperti ini,” kata Hindun bangga karena memiliki ayah Rasulullah.

Rasulullah juga sangat menyayangi anak-anak tirinya yang lain. Beliau memandang semua anak tirinya tanpa jarak. Baginya, mereka adalah seperti anak kandung sendiri yang harus diperlakukan dan dibimbing dengan sebaik-baik.

Maka tidak heran jika Ummu Habibah dan Saudah, dua istri Rasulullah yang memiliki anak dengan suami sebelumnya, sangat memuji dan menghormati Rasulullah karena sang suami sangat menyukai bagi anak-anaknya dan menjadi pengayom bagi mereka. Cinta kasih dan kelembutan Rasulullah tidak hanya terbatas pada ‘hubungan darah.’ (A Muchlishon Rochmat/NU Online)

Tags
Islam
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help