Malang Raya

Ngudek Jenang dan Ngarak Banteng di Kota Batu Jadi Daya Tarik Bagi Turis Asing

Sepanjang jalan di Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu dipadati penonton. Mereka asyik melihat pertunjukan Bantengan

Ngudek Jenang dan Ngarak Banteng di Kota Batu Jadi Daya Tarik Bagi Turis Asing
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Warga mengudek jenang di Candi Supo Songgoriti, Kota Batu, dalam memperingati Tahun Baru Islam 1440 H, Rabu (13/9/2018). 

SURYAMALANG.COM, BATU - Sepanjang jalan di Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu dipadati penonton. Mereka asyik melihat pertunjukan Bantengan dari 30 grup seMalang Raya, Kamis (13/9/2018).

Bahkan Bantengan ini juga jadi tontonan wisatawan mancanegara selama pertunjukan berlangsung. Tak ketinggalan mereka pun mengabadikan dengan kamera mereka. Kegiatan ini serangkaian dalam memperingati Tahun Baru Islam 1440 H.

Malam sebelumnya juga diadakan kegiatan Ngudek Jenang di Candi Supo Songgoriti. Rabu (13/9/2018). Rudi Hartono koordinator acara, mengatakan kegiatan ini selain rutin diadakan juga untuk melestarikan budaya yang sudah sering dilakukan setiap tahun baru Islam.

"Kami ingin melestarikan budaya ini, agar terus dilakukan dan diperkenalkan oleh anak-anak. Selain itu, ini juga merupakan rasa syukur kami dari nikmat yang telah diberikan kepada kami," kata Rudi.

Dalam kegiatan yang sudah menjadi turun temurun sejak 21 tahun silam ini, mereka bersama-sama memanjatkan doa untuk keselamatan masyarakat. Sementara dalam kegiatan ngudek jenang yang diikuti puluhan masyarakat, diberi nama jenang suro. Masyarakat bersama-sama mengaduk jenang di wajan besar.

Mereka tidak asal membuat jenang, sebelum membuat jenang ini diawali dengan pembacaan doa terlebih dahulu. Setelah membaca doa mereka mulai mengaduk yang dan memasukkan bahan-bahan berasal dari hasil bumi.

Antara lain kelapa 34 buah, kelapa muda empat buah, beras 17 kilogram, dan kacang tanah dua kilogram perlahan dimasukkan sambil mengucap doa.

Karena jenang ini dibuat dengan jumlah yang cukup banyak ketika mengaduk cukup berat. Sehingga sewaktu-waktu warganya bergiliran untuk mengaduk hingga matang. Apalagi  proses mengaduk tidak boleh berhenti, kurang lebih selama empat hingga lima jam.

Warga Dusun Songgoriti Kelurahan Songgokerto Wiji Mulyo, mengatakan dari bahan itu bisa menghasilkan 15 kilogram jenang yang siap disantap oleh warga. Pendamping makan jeneng ini sudah dipersiapkan seperti perkedel, kering tempe, dan telur dadar.

"Kami juga membacakan macapat di area Candi Supo Songgoriti. Macapat ini dibaca oleh para pelajar Songgoriti," kata dia.

Menurutnya kegiatan ini merupakan budaya yang tidak bisa ditinggalkan oleh warga Songgoriti. Itu sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada maha kuasa. Selain itu, tradisi ini jadi salah satu cara membuat warga Songgoriti lebih guyub.

"Serta lebih kompak dan bersama-sama membangun Dusun Songgoriti menjadi daerah yang terus maju dibidang wisata dan religi," ungkapnya. 

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved