Kabar Surabaya

Tampil dalam 'Santun Bermedia untuk Pemilu Damai', Sujiwo Tejo Ajak Berjuang tapi Santai

Menurut Agus Sudibyo, Direktur Indonesia New Media Watch, semua unsur masyarakat harus memberi andil untuk menjaga suasana tenang, guyub dan kondusif.

Penulis: Delya Octovie | Editor: yuli
Delya Oktovie - SuryaMalang.com
Sujiwo Tejo tampil diiringi oleh Klantink dalam acara 'Santun Bermedia untuk Pemilu Damai' di Convention Hall, Jl. Arif Rahman Hakim, Surabaya, Rabu (6/2/2019). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Semakin dekat pemilihan presiden-wakil presiden sekaligus legislatif, semakin penting pula waspada akan hoax maupun pemberitaan negatif yang kerap dilontarkan masyarakat sekaligus media.

Menurut Agus Sudibyo, Direktur Indonesia New Media Watch, semua unsur masyarakat harus memberi andil untuk menjaga suasana tenang, guyub dan kondusif selama pesta demokrasi nanti.

"Perlu dipastikan agar ruang media menjadi ruang yang mencerahkan masyarakat dan mendinginkan suasana. Perlu dijaga agar ruang media tidak menjadi sarana provokasi dan pecah-belah masyarakat," tuturnya dalam gelaran 'Santun Bermedia untuk Pemilu Damai' sebagai peringatan Hari Pers Nasional di Convention Hall, Surabaya, Rabu (6/2/2019).

Ia juga menekankan pentingnya warganet maupun generasi milenial dalam memastikan kondisi Pemilu yang baik.

Ia mengatakan, milenial adalah faktor penentu kualitas demokrasi Indonesia ke depan, serta sebagai penerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa.

"Kepada mereka, perlu digelorakan gerakan bijak ber-internet dan bermartabat dalam bermedia sosial. Mereka perlu menunjukkan karakter generasi penerus bangsa yang santun dan penuh tanggung jawab, termasuk ketika di ruang media sosial," jelasnya.

Senada dengan Agus, Muhammad Iqbal, Kepala Divisi Humas Polri menegaskan Pemilu harus dikawal bersama-sama, dan suasana demokrasi yang damai merupakan harga mati.

Ia menjelaskan, Polri secara Undang-Undang memang diamanahkan sebagai garda terdepan.

Mereka pun telah mengerahkan Kamtibmas dan lainnya.

"Tetapi, tidak bisa kalau semua elemen masyarakat, media khususnya, tidak membantu kami," ujarnya.

Iqbal menyebut jumlah kasus hoax bukannya berkurang dari tahun ke tahun, namun justru melebar.

Di tahun 2015, katanya, kasus hoax hanya ada lima, sedangkan di tahun 2018 ada 52.

Dari 52 kasus tersebut, 18 di antaranya sudah proses persidangan, sedang sisanya mendapat pembinaan karena hanya berperan sebagai 'forwarder' atau penerus pesan.

"Suasana panas harus dikelola, dan kami di sini sebagai cooling system. Untuk itulah, kami semua 450.000 lebih anggota polisi selama Pilkada dan Pemilu, wajib turun lapangan untuk mendekat pada masyarakat, cari sahabat. Karena kekuatan polisi ada pada masyarakat, bukan pistol," tegasnya.

Di sela-sela acara, budayawan Sujiwo Tejo tampil di atas panggung berkolaborasi dengan Klantink.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved