Dolly Belum Tutup

PSK di Dolly Dibanderol Seharga Rp 1,7 Juta

perempuan-perempuan yang biasa diorderkannya juga merupakan eks PSK di lokalisasi Dolly dan Jarak. "Tapi mereka tinggal di tempat-tempat kos,"

Editor: eko darmoko

SURYAMALANG.COM, SURABAYADolly belum tutup. Polda Jatim baru saja berhasil membongkarnya. Dua tersangka ditangkap dan satu tersangka masih buron. Dua tersangka yang ditangkap adalah Anton (39), warga Malang, dan Makhsus alias Gondrong (39), warga Surabaya.

Dalam aksinya, tiga makelar itu melayani pemesanan cewek kelas premium dengan tarif Rp 1,7 juta untuk sekali kencan. Cewek-cewek PSK-nya tinggal di kos, dan sewaktu-waktu dihubungi siap melayani tamu yang membokingnya di hotel yang telah ditentukan.

Makelar itu mangkal di pertigaan dan di pinggir jalan kawasan lokalisasi tersebut. Saat ada pria hidung belang yang melintas dan menanyakan cewek, langsung diberi nomor handphone oleh mereka. Transaksi dilanjutkan lewat telpon.

Setelah deal, kemudian disepakati hotelnya. Lalu, para tersangka menghubungi cewek yang sedang berada di kosnya. Perempuan yang dibooking, lantas diantarkan ke hotel untuk menemui pria hidung belang yang telah membookingnya.

Di loby hotel, para pelaku melakukan transaksi. Kemudian, perempuan masuk ke kamar hotel untuk melayani tamu. Dalam transaksi kali ini, Gondrong dapat bagian Rp 700.000, Anton Rp 500.000 dan R dapat Rp 500.000, sedangkan masing-masing PSK mendapat Rp 1 juta dan satunya dapat Rp 700.000.

Sekadar diketahui, saat penangkapan, polisi menemukan dua PSK yang dijajakan. Jadi, tersangka mengumpulkan uang Rp 1,7 juta kali dua yang dibagi-bagi seperti rincian di atas.

Dalam penyidikan, diketahui bahwa praktik tersebut sudah lama berlangsung. Beberapa saat setelah Dolly ditutup oleh pemerintah. Pelakunya juga kebanyakan orang-orang yang dulu bekerja di lokalisasi di kawasan Kupang Gunung tersebut.

Gondrong menceritakan, perempuan-perempuan yang biasa diorderkannya juga merupakan eks PSK di lokalisasi Dolly dan Jarak. "Tapi mereka tinggal di tempat-tempat kos," jawab pria bertubuh pendek tersebut.

Pria yang mengaku sehari-hari bekerja serabutan ini berdalih baru menjalankan profesi di bidang usaha lendir tersebut sejak akhir tahun kemarin. Namun, pernyataannya itu tidak dipercaya begitu saja oleh polisi. Sebab, informasi yang diterima petugas, praktik itu sudah lama berlangsung. (M Taufik)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved