Kisah Inspiratif
Bermodal Dengkul, Perempuan Lereng Gunung ini Kini Kelola Aset Rp 500 Juta
"Dulu kesibukan ibu-ibu hanya momong anak dan menunggu suami dari sawah. Sekarang punya usaha produktif bikin kripik bernilai ekonomi," kata Sulastri.
SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Sepuluh tahun silam tidak banyak perempuan di Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, yang memiliki kesibukan. Namun saat ini kebanyakan perempuan desa sudah punya bisnis sampingan membuat aneka kripik.
Bisnis sampingan para perempuan di Desa Joho ini tidak terlepas dari sosok Sulastri (37). Tokoh perempuan desa dari lereng Gunung Wilis inilah yang membidani lahirnya Koperasi Wanita Sido Rukun.
Semula Sulastri hanya mendirikan Paguyuban Wanita Sido Rukun. Kemudian paguyuban itu berkembang menjadi koperasi wanita yang mengelola simpan pinjam untuk modal usaha kripik.
Sulastri merupakan sosok yang bersahaja, tapi mampu membawa perubahan bagi warga di desanya. Karena kemampuannya itulah Sulastri sempat dipercaya menjadi Kepala Desa (Kades) Joho.
Meski hanya tamatan SMA, Sulastri berupaya memberdayakan masyarakatnya. Usahanya sukses mengajak ibu-ibu menjadi perajin camilan aneka kripik.
Ada kripik pisang, kripik tales mbote, kripik sukun dan kripik singkong. Bahan-bahan kripik itu sangat melimpah di desanya. Dengan diolah menjadi kripik, secara ekonomis punya nilai tambah.
"Dulu kesibukan ibu-ibu hanya momong anak dan menunggu suami dari sawah. Sekarang sudah banyak ibu-ibu yang mempunyai usaha produktif membuat kripik," ungkapnya.
Malahan hasil aneka kripik dari Desa Joho tidak hanya dipesan untuk wilayah Kediri tapi sampai ke luar daerah. "Pesanan banyak berdatangan biasanya sebulan menjelang Hari Raya Idul Fitri," tambahnya.
Untuk mendapatkan permodalan Sulastri kemudian menggagas berdirinya Koperasi Perempuan Sido Rukun. Semula wanita yang bergabung sebagai anggota koperasi hanya sebatas 20 orang perempuan. Namun saat ini yang ikut tergabung sudah mencapai 70 anggota.
Koperasi ini awalnya hanya bermodal dengkul atau dimodali seadanya. Namun usahanya terus berkembang dan maju dalam usaha simpan pinjam untuk modal usaha kripik.
Jika pada awal berdirinya asetnya hanya beberapa juta, kini setelah berjalan 10 tahun, aset koperasi sudah mencapai Rp 500 juta. "Allhammdullilah anggota kami semua tertib tak ada yang menunggak angsuran. Sehingga usaha koperasi juga berjalan lancar," ungkap Sulastri.
Keberadaan koperasi juga membuat anggotanya dapat dengan mudah mengakses permodalan. Sebelum ada koperasi, banyak warga yang terjerat rentenir dari bank titil yang bunganya sangat tinggi.
Sukses membuka koperasi, ibu-ibu juga membuka Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Pendidikan Quran (TPQ) yang berlokasi di depan rumah Sulastri. TPQ dan PAUD itu berdiri setelah di Desa Joho kedatangan mahasiswa yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Namun bangunan sekolah PAUD itu juga masih sederhana. Meski begitu pengelolanya tetap gigih dan guru yang mengajarkan dibayar dengan honor seadanya. Tapi yang membanggakan lulusan PAUD dan TPQ sudah bisa baca tulis dan mengaji.
Untuk menambah honor pengajar PAUD, Sulastri kemudian menggilir ternak kambing bantuan yang diterimanya. Sehingga bantuan 5 ekor kambing dari donatur, kini telah beranak pinak menjadi belasan ekor kambing.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/koperasi-wanita-lereng-gunung_20150423_153601.jpg)