Malang Raya
Warga Malang Tolak Arca Singha Stambha Usia Ribuan Tahun Dipindah ke Museum
Arca peninggalan abad ke-10 itu sementara ini diselamatkan dahulu. Ia meletakkan arca tersebut di Polsek Lowokwaru agar aman dari tangan-tangan jahil.
SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan menunda pemindahan Arca Singha Stambha ke Museum Mpu Purwa Jawa Timur di Kota Malang, Selasa (8/6/2015). Alasannya, warga belum sepakat jika arca berusia ribuan tahun itu pindah tempat.
Lurah Merjosari, Abdullah memaparkan warga belum setuju dengan pemindahan arca ke museum karena tim BPCB, dan warga pernah sepakat untuk menempatkan arca yang berasal dari abad ke-10 ini di sekitar wilayah Kelurahan Merjosari saja.
Lokasi arca berdasar kesepakatan itu bisa di atas lokasi semula, atau di Kelurahan Merjosari sebagai ikon dari wilayah tersebut.
“Informasi ini baru saya ketahui setelah mengumpulkan warga Senin (8/6/2015) malam. Dan, kesepakatan ini lahir sebelum jaman saya (memimpin Merjosari),” jelas Abdullah pada SURYAMALANG.COM, Selasa (9/6/2015).
Abdullah tak bisa memastikan kapan keputusan itu lahir. Meski demikian, ada kemungkinan bahwa kesepakatan antara warga dan BPCB Trowulan muncul setahun lalu setelah tim peneliti mendata informasi keberadaan Arca Singha Stambha di Kelurahan Merjosari.
Menurutnya kesepakatan tersebut belum tentu masih berlaku hingga sekarang. Ini karena informasi terkait perawatan, dan pemeliharan benda bersejarah juga masih belum jelas dipahami warga. Oleh karena itu, pertemuan pada Senin (8/6/2015) malam terjadi silang pendapat antar warga.
“Tidak ada kesepakatan apapun tadi malam. Rencananya kami (Kelurahan dan BPCB Trowulan) akan menggelar pertemuan lagi besok (Rabu, 10/6/2015) dengan melibatkan unsur masyarakat yang tahu kesepakatan sebelumnya tadi,” kata Abdullah.
Terpisah, Ketua tim pemindahan Arca, Jamiat Rusmono Adi memastikan bahwa arca peninggalan abad ke-10 itu sementara ini diselamatkan dahulu. Ia meletakkan arca tersebut di Polsek Lowokwaru agar aman dari tangan-tangan jahil.
“Lokasi arca selanjutnya ditentukan setelah pertemuan dengan warga. Saya hanya bisa memastikan bahwa arca itu sudah diangkat, dan diletakkan di tempat yang aman,” jelas Jamiat.
Di berita sebelumnya, tim BPCB Trowulan mengangkat Arca Dewa Singha Stambha yang selama ini terdapat di komplek perumahan warga Mertojoyo Barat, RT 1, RW 10 Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. Ini dilakukan berdasarkan permintaan dari pengembang perumahan Dinoyo Regency, tempat arca itu bersemayam hingga kini.
Arca tersebut merupakan ikon dari Merjosari. Itu terlihat dari penamaan sejumlah tempat penting di kelurahan ini, seperti jalan, Taman, bahkan nama karang taruna kelurahan ini adalah Karang Taruna Singha.
Setelah diangkat, arca berupa patung seekor singa yang berdiri, memiliki tinggi 117 cm, lebar 60 cm, tebal 50 cm, dan berat arca diperkirkan lebih dari 1 ton.
Pada bagian dada Arca juga terdapat tulisan dalam bahasa jawa kuno, yang berarti penanda waktu, 941 Caka atau 1019 Masehi. Diduga tulisan itu adalah tahun pembuatan arca.
Arkeolog BPCB Trowulan, Nugroho HL menjelaskan arca tersebut merupakan perwujudan dari Dewa Wisnu. Artinya juga, arca ini merupakan peninggalan dari kerajaan bercorak Hindu. Apabila dikaitkan dengan sejarah di Malang, maka kerajaan yang sesuai adalah kerajaan Kanjuruhan.
“Persoalannya bentuk arca seperti ini baru pertama. Kami belum mengetahui dengan pasti apakah ada arca yang sama dengan ini di Malang,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/arca-malang_20150609_195928.jpg)